Amati Wilujengan Nagari Mahesa Lawung

538
MASIH TERJAGA: Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak kepala kerbau dalam upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung selanjutnya dikubur di hutan Krendhawahana, Gondangrejo, Karanganyar kemarin (8/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
MASIH TERJAGA: Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak kepala kerbau dalam upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung selanjutnya dikubur di hutan Krendhawahana, Gondangrejo, Karanganyar kemarin (8/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
MASIH TERJAGA: Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak kepala kerbau dalam upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung selanjutnya dikubur di hutan Krendhawahana, Gondangrejo, Karanganyar kemarin (8/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
MASIH TERJAGA: Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak kepala kerbau dalam upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung selanjutnya dikubur di hutan Krendhawahana, Gondangrejo, Karanganyar kemarin (8/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Keraton Kasunanan Surakarta kembali menggelar upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, Senin (8/2). Puluhan mahasiswa Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang membuntuti prosesi upacara dari awal hingga akhir, mengaku takjub.

Mereka berbaur dengan para abdi dalem keraton sejak dari dapur Keraton, Gondorasan. Dari tempat itu, dibawa beragam masakan olahan hasil bumi dan kepala kerbau untuk diboyong ke Sasana Maliki guna mohon izin kepada raja.

Setelah itu, seluruh uborampe diboyong ke Sitinggil untuk didoakan. “Kepala kerbau yang ditanam maknanya adalah memendam kebodohan. Semua hanya tentang simbol saja,” ujar salah seorang mahasiswi Ayu Putri.