Wedang Durian, Atlernatif Menu Imlek

566
FILOSOFI AKULTURASI: Wedang Durian Cap Go Meh, alternatif hidangan saat merayakan Imlek. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FILOSOFI AKULTURASI: Wedang Durian Cap Go Meh, alternatif hidangan saat merayakan Imlek. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FILOSOFI AKULTURASI: Wedang Durian Cap Go Meh, alternatif hidangan saat merayakan Imlek. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FILOSOFI AKULTURASI: Wedang Durian Cap Go Meh, alternatif hidangan saat merayakan Imlek. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Salah satu menu wajib dalam perayaan Tahun Baru Imlek adalah Lontong Cap Go Meh, makanan ini adalah makanan olahan akulturasi budaya Jawa dan Cina. Biasanaya Lontong Cap Go Meh disajikan empat belas hari setelah Imlek. Beberapa makanan kecil khas Imlek lainnya adalah kue keranjang yang melambangkan kerukunan antar-keluarga bagi warga Tionghoa.

Saat ini masyarakat yang merayakan Imlek mencoba berkreasi. Salah satunya dilakukan pemilik ‘Omah Durian Point’, Dik Tan. Dia membuat sebuah menu yang berbeda, namun dengan filosofi yang hampir sama. akulturasi. Minuman yang menggugah selera itu adalah Wedang Durian Cap Go Meh.

Menggunakan bahan dasar seperti kue keranjang, gula jawa, santan dan durian ia mencoba menciptakan menu baru yang juga bisa dinikmati oleh masyarakat Tionghoa ataupun Jawa. “Wedang Durian Cap Go Meh ini bisa dimakan saat kumpul keluarga setelah makan lontong Cap Go Meh,” ujar Dik Tan.

Wedang Durian Cap Go Meh bisa digunakan untuk menghangatkan badan sebagai pengganti wedang jahe yang biasanya disediakan saat perayaan Cap Go Meh ataupun Imlek. “Akulturasi budaya Jawa dan Cina ada dalam wedang durian. Rasanya yang manis melambangkan kekerabatan dan kebaikan antar umat manusia,” tukasnya.

Dik Tan menjual wedang durian Cap Go Meh di kedai Omah Durian Point di daerah Bulu dengan harga Rp 20 ribu per porsi. (den/smu)