BISA SALAH SASARAN: Permintaan LPG ukuran 3 kg tiap hari terus meningkat. Namun tata niaga LPG 3 kg belum jelas, karena bisa dibeli oleh siapa saja. Padahal, peruntukannya untuk rumah tangga miskin dan UMKM. (ADITYO DWI R/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BISA SALAH SASARAN: Permintaan LPG ukuran 3 kg tiap hari terus meningkat. Namun tata niaga LPG 3 kg belum jelas, karena bisa dibeli oleh siapa saja. Padahal, peruntukannya untuk rumah tangga miskin dan UMKM. (ADITYO DWI R/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BISA SALAH SASARAN: Permintaan LPG ukuran 3 kg tiap hari terus meningkat. Namun tata niaga LPG 3 kg belum jelas, karena bisa dibeli oleh siapa saja. Padahal, peruntukannya untuk rumah tangga miskin dan UMKM. (ADITYO DWI R/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BISA SALAH SASARAN: Permintaan LPG ukuran 3 kg tiap hari terus meningkat. Namun tata niaga LPG 3 kg belum jelas, karena bisa dibeli oleh siapa saja. Padahal, peruntukannya untuk rumah tangga miskin dan UMKM. (ADITYO DWI R/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pertumbuhan penduduk, perekonomian maupun bertambahnya jumlah usaha berbasis UMKM berdampak pada meningkatnya konsumsi LPG 3 kg. PT Pertamina MOR IV Jateng –DIY mencatat, setidaknya terjadi kenaikan konsumsi produk tersebut antara 10-11 persen tiap tahunnya.

“Jika mengacu pada rata-rata konsumsi LPG 3 kg di tahun 2015 mencapai 2.651 Matrix Ton per hari. Jumlah tersebut terus diperkirakan juga akan meningkat di tahun 2016 ini,” ujar GM PT Pertamina MOR IV Jateng-DIY, Kusnendar, kemarin.

Kendati demikian, hingga saat ini kuota untuk Jateng-DIY masih belum turun. Kuota LPG 3 kg untuk Jateng saat ini sudah didata oleh Kementrian ESDM dan akan segera disosialisasikan. Diprediksi pekan depan ketetapan kuota LPG 3 kg sudah disahkan. “Tahun lalu kuota LPG 3 kg tahun 2015 sendiri sesuai Kementrian ESDM mencapai 874.935 Matrix Ton setahun. Tahun ini diprediksi naik 10-11 persen dari tahun lalu,” jelasnya.

External Relation PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jawa Tengah-DIY Robert Dumatubun menambahkan, pertumbuhan kebutuhan LPG 3 kg secara riil di lapangan tidak pernah cocok dengan kuota LPG. Apalagi, kuota LPG 3 kg juga ditetapkan sesuai kemampuan APBN. “Pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan konsumsi LPG 3kg, pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan UMKM ini terus bergerak. Sedangkan tata niaga LPG 3 kg belum jelas, karena bisa dibeli oleh siapa saja. Padahal, peruntukannya untuk rumah tangga miskin dan UMKM,” imbuhnya. (dna/smu)