Tangkal Zika dengan Ronda Jentik

201

SEMARANG – Tren puncak jumlah penderita DBD diperkirakan terjadi di musim penghujan seperti sekarang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah Yulianto Prabowo menjelaskan, pada 2015, index rate (IR) Jateng menyentuh 48 kasus per 100 ribu penduduk. Angka itu mendekati batas toleransi secara nasional, yaitu 50 kasus per 100 ribu penduduk. Angka itu jauh dari target awal yang hanya 22 kasus.

”Faktor melonjaknya angka kasus DBD ini sangat banyak. Terutama mengenai kesadaran masyarakat mengenai pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Memang masyarakat sendiri yang bisa menangkal penyebaran virus ini,” ucapnya.

Dijelaskannya, penyebaran virus DBD banyak terjadi di perkotaan. Berdasar IR-nya, di Kota Magelang terjadi kasus terbanyak, 158/100 ribu penduduk. Disusul Kabupaten Jepara yang mencapai 123/100 ribu penduduk, dan Kota Semarang 99/100 ribu penduduk. Diprediksi, ketiga daerah tersbut bisa menjadi sarang virus DBD lantaran menjadi titik industri yang luput dari perhatian kebersihan.

”Angka IR yang tinggi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). KLB hanya ditetapkan jika ada peningkatan kasus dua kali lipat dari bulan sebelumnya,” terang Yulianto.

Terkait kasus kematian, kata Yulianto, terjadi sekitar 1,6 persen dari angka IR. Tercatat, ada tujuh korban meninggal dunia terjadi di Brebes. Korbannya tergolong merata, dari anak-anak hingga dewasa. Karena itu, pihaknya akan memantau perkembangan informasi DBD setiap minggu.

Dia mengimbau kepada pemerintah untuk mengajak warga, menggelar ronda jentik. Memantau tempat-tempat genangan, termasuk penampungan air, yang bisa jadi menjadi tempat nyamuk bertelur.

Agar lebih teliti, disarankan melihatnya menggunakan senter. Jika menemukan keberadaan jentik, sebaiknya langsung dikuras. Jika tidak memungkinkan, gunakan obat abate. Selain itu, disarankan juga untuk menutup tempat penampungan air bersih dan mengubur barang-barang bekas.