KENDAL—Dinas Kesehatan (Dinkes) akan melakukan pengawasan ketat terhadap pasien demam berdarah dengue (DBD). Hal itu untuk mengantisipasi akan masuknya virus zika yang menyerang warga. Caranya, yakni dengan melakukan pengawasan terhadap hasil laboratorium penderita DBD di seluruh rumah sakit dan puskesmas.

Kepala Dinkes Kendal, Widodo M Sutomo mengatakan jika hasil laboratorium dan data dari sejumlah rumah sakit dan puskesmas untuk penderita DBD akan dikonsultasikan ke komite kesehatan. Sebab dari data yang masuk, banyak yang sepenuhnya belum akurat.

“Banyak laporan panas tinggi dan trombosit turun, oleh pemeriksa sudah dikatakan demam berdarah. Padahal belum tentu, makanya kami lakukan konsultasi ulang untuk memastikan kembali apakah benar-benar demam berdarah atau tidak,” katanya, Rabu (03/02).

Pengawasan juga dilakukan untuk mewasdai munculnya virus zika yang gejalanya mirip dengan demam berdarah. Meskipun sejauh ini, Dinkes belum menemukan kasus virus zika. “Yang terpenting warga harus menjaga kebersihan dan selalu menerapkan pola hidup sehat,” jelasnya.

Dari konsultasi ke komite kesehatan, selama Januari 2016 hanya ada 40 penderita DBD. Dari jumlah tersebut satu diantarnaya meninggal. “Wilayah yang paling banyak terjangkit DBD yakni Kecamatan Kangkung dan Cepiring,” kata Saeri, Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kendal.

Dijelaskan angka penderita DBD kurun waktu tiga tahun terakhir ada peningkatan. Tahun 2013 ada sebanyak 559 kasus dan sembilan meninggal dunia, selanjutnya tahun 2014 meningkat jadi 568 kasus dan enam warga meninggal dunia. Sedangkan tahun 2015 lalu naik lagi menjadi 656 kasus dengan sembilan orang meninggal dunia.