Tidak Dirawat, Dikhawatirkan Bakal Musnah

742
CAGAR BUDAYA : Pangeran Diponegoro pernah transit di Benteng Willem II di Jalan Diponegoro Ungaran sebelum diasingkan ke Makassar. Sayangnya Benteng Willem tersebut hanya untuk kegiatan kepolisian. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CAGAR BUDAYA : Pangeran Diponegoro pernah transit di Benteng Willem II di Jalan Diponegoro Ungaran sebelum diasingkan ke Makassar. Sayangnya Benteng Willem tersebut hanya untuk kegiatan kepolisian. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CAGAR BUDAYA : Pangeran Diponegoro pernah transit di Benteng Willem II di Jalan Diponegoro Ungaran sebelum diasingkan ke Makassar. Sayangnya Benteng Willem tersebut hanya untuk kegiatan kepolisian. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CAGAR BUDAYA : Pangeran Diponegoro pernah transit di Benteng Willem II di Jalan Diponegoro Ungaran sebelum diasingkan ke Makassar. Sayangnya Benteng Willem tersebut hanya untuk kegiatan kepolisian. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang dinilai kurang tanggap dalam melestarikan benda cagar budaya (BCB) yang ada di Bumi Serasi. Akibatnya, banyak yang mengkhawatirkan bangunan bersejarah tersebut akan musnah karena dimakan usia atau hilang karena lahannya dikuasai pihak yang menjadikannya tempat komersil.

Beberapa bangunan cagar budaya di Kabupaten Semarang yang kondisinya rusak dan mangkrak adalah Gedong Kuning milik PT KAI di wilayah Kebon Polo, Ungaran. Atap bangunan maupun temboknya hancur. Selain itu, ada gedung Perhubungan (PHB) yang sempat digunakan korps musik Kodam IV Diponegoro di Jalan Diponegoro Ungaran, juga mulai runtuh. Bahkan Benteng William I atau Benteng Pendem di Ambarawa yang digunakan untuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kondisinya sebagian dibiarkan hancur tak terurus.

“Sepertinya bangunan itu sengaja dibiarkan pemiliknya dan pemerintah hingga rusak dan hancur. Lebih parah lagi, jika akhirnya dikuasai oleh para pemilik modal,” ujar Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bambang Kusriyanto, Selasa (2/2) kemarin.