Kelola Aset, Gunakan TI

135

SEMARANG – Pemprov Jawa Tengah bakal menggunakan sistem teknologi informasi dalam pengelolaan seluruh aset mulai tahun ini. Mulai dari pendataan, promosi, hingga pengamanan aset yang menjadi milik pemprov. Dewan mengapresiasi langkah ini karena dinilai bakal untuk ekstensifikasi pendapatan asli daerah (PAD) selain dari kendaraan bermotor.

Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah Sriyanto Saputro mengatakan, sistem teknologi informasi bisa menjadi alternatif untuk mengamankan aset Jawa Tengah. Pendataan aset memakai sistem informasi geografis, sehingga semua lokasi aset dan bagaimana kondisinya dapat dipantau. ”Penggunaan teknologi informasi ini harus disempurnakan lagi. Nantinya beberapa aset yang akan disewakan juga akan dipromosikan lewat internet,” katanya.

Selain itu, penggunaan teknologi informasi bisa mencegah berbagai persoalan aset. Seperti kasus lahan PRPP yang bermasalah dengan PT IPU. Bahkan beberapa aset terancam hilang karena berseteru dengan sejumlah pihak yang mengklaim. Kasus aset Sukorejo, Kendal misalnya. Tanah seluas 2,3 hektare sudah dikuasai oknum tertentu, kemudian dikapling dan dijual. ”Karena itu Komisi A mendorong pengamanan aset, inventarisasi, status hukum, termasuk aset-aset milik eks pejabat yang beberapa sudah bisa diselesaikan,” ujarnya.

Pemprov didesak bekerja ekstra menjaga seluruh aset yang nilainya mencapai Rp 20.062.809.346.161. Dewan bakal mendukung agar seluruh aset bisa aman dan tertib administrasi. ”Jika butuh anggaran besar untuk memagari aset, tidak masalah. Daripada terancam hilang seperti PRPP,” tambah anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Amir Darmanto.

Dewan juga meminta agar pemprov mengoptimalkan aset agar menjadi sumber baru PAD. Untuk bangunan-bangunan strategis bisa dikerjasamakan oleh pihak ketiga, disewakan jadi hotel, dan guest house. ”Sehingga ke depan, PAD tidak hanya mengandalkan dari pajak kendaraan bermotor saja,” tambahnya.

Pada 2015 aset pemprov tercatat di DPPAD Jawa Tengah berupa bidang tanah sebanyak 9.294 bidang senilai Rp 12.022.545.538.300, 3.534 gedung senilai Rp 2.140.462.007.630, dan 208 monumen senilai Rp 46.836.911.413. (fth/ric/ce1)