PPP Butuh Figur Penengah

237
SERUKAN ISLAH: Dari kanan, Ketua Majelis Pakar DPW PPP Jateng Imam Munadjat, Pakar Politik Islam UIN Walisongo Amin Farih, dan Pengamat Politik Undip M. Yulianto dalam diskusi ”PPP; Muktamar atau Bubar”, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
SERUKAN ISLAH: Dari kanan, Ketua Majelis Pakar DPW PPP Jateng Imam Munadjat, Pakar Politik Islam UIN Walisongo Amin Farih, dan Pengamat Politik Undip M. Yulianto dalam diskusi ”PPP; Muktamar atau Bubar”, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
SERUKAN ISLAH: Dari kanan, Ketua Majelis Pakar DPW PPP Jateng Imam Munadjat, Pakar Politik Islam UIN Walisongo Amin Farih, dan Pengamat Politik Undip M. Yulianto dalam diskusi ”PPP; Muktamar atau Bubar”, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
SERUKAN ISLAH: Dari kanan, Ketua Majelis Pakar DPW PPP Jateng Imam Munadjat, Pakar Politik Islam UIN Walisongo Amin Farih, dan Pengamat Politik Undip M. Yulianto dalam diskusi ”PPP; Muktamar atau Bubar”, kemarin. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Konflik internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berlarut-larut harus segera diselesaikan. Jika tidak, bukan tidak mungkin partai berlambang Kakbah itu terancam bubar. Untuk itu, dibutuhkan figur penengah yang bisa menyatukan kubu Djan Faridz dan Romahurmuziy. Sejumlah pihak menilai sosok yang cukup potensial saat ini adalah Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin.

Pengamat politik Undip, Muhammad Yulianto mengatakan, jika terus berseteru dengan menempuh jalur hukum, bukan tidak mungkin PPP bakal bubar. Padahal, sudah jelas kubu Djan Faridz dan Romahurmuziy tak memiliki SK dan otomatis kembali ke hasil Muktamar Bandung. ”Dua kubu saat ini kan sudah tidak memiliki kekuatan hukum. Mestinya harus segera menggelar Muktamar Islah sesuai dengan hasil Muktamar Bandung,” katanya dalam diskusi ”PPP; Muktamar atau Bubar” yang digelar DPW PPP Jawa Tengah di Banaran Coffee, kemarin.