SEMARANG – Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir Seluruh Indonesia (Ginsi) Jawa Tengah mengklaim bahwa 90 persen barang yang didatangkan dari luar negeri ke provinsi merupakan bahan baku industri. Hal ini sebagai bentuk dukungan perkembangan perekonomian Jawa Tengah.

“Sembilan puluh persen bahan baku, sisanya barang konsumsi,” ujar Ketua BPD Ginsi Jateng Budiatmoko, kemarin.

Pihaknya mengaku mengimpor barang konsumsi karena produk lokal masih belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kedelai misalnya, per tahun kebutuhan Jawa Tengah sebesar 600 ribu ton, sedangkan petani lokal per tahunnya hanya mampu memproduksi sebesar 130 ribu ton.

Sedangkan bahan baku industri, lanjutnya, untuk kemudian diolah memenuhi kebutuhan dalam negeri juga untuk diekspor. Di antaranya, biji kapas yang diimpor dari Tiongkok untuk memenuhi ekspor tekstil serta biji plastik. “Ini salah satu bentuk dukungan kami untuk memajukan perekonomian Jawa Tengah. Yaitu dengan mengimpor bahan baku industri untuk kemudian diolah lagi dan diekspor,” tambah Budiatmoko.

Namun demikian, ia mengaku masih memiliki beberapa kendala di lapangan. Yaitu sulitnya menggandeng seluruh importir untuk bergabung dalam asosiasi tersebut. Dari sekitar 1200 importir di Jawa Tengah, dalam setahun ini baru 84 importir saja yang bergabung.