KEBERSAMAAN : Ratusan anggota Paguyuban Kaki Langit saat mengadakan kumpul bersama di Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEBERSAMAAN : Ratusan anggota Paguyuban Kaki Langit saat mengadakan kumpul bersama di Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEBERSAMAAN : Ratusan anggota Paguyuban Kaki Langit saat mengadakan kumpul bersama di Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEBERSAMAAN : Ratusan anggota Paguyuban Kaki Langit saat mengadakan kumpul bersama di Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tidak semua lapisan masyarakat menyukai permainan Teka-Teki Silang (TTS). Namun lain dengan Paguyuban Kaki Langit ini. TTS justru sudah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

MENGISI teka-teki silang, bagi sebagian orang, barangkali hanya iseng. Tapi tidak bagi anggota Paguyuban Kaki Langit (Teka-Teki Silang Sulit). Justru kegemaran mengisi huruf dalam kotak-kotak bersilangan itu telah mempersatukan mereka dalam sebuah paguyuban yang berkantor pusat Semarang ini. Bahkan, mulai dari teka-teki silang itulah mereka menemukan saudara-saudara baru.

Muhamad Sukirman, ketua Paguyuban mengungkapkan bahwa paguyuban itu terbentuk sejak 15 Januari 2006. Awalnya karena di radio terdapat acara Kaki Langit, acara bagi para penggemar TTS untuk saling bertanya. Berawal dari situlah, semakin banyak anggota yang ingin bergabung.

Memang, dari segi usia, lebih dari 50 persen mereka berusia di atas 50 tahun. Namun, semangat untuk memecahkan sebuah pertanyaan dalam TTS itulah yang menjadikan komunitas ini semakin solid.

“Ini kami khusus mengerjakan Teka-Teki Silang Sulit. Kalau tidak sulit, kami tidak mau,” kata Sukirman, Sabtu (23/1) kemarin. Karena dari sulitnya TTS tersebut dapat menciptakan sebuah tantangan tersendiri bagi mereka.

Cara-cara yang digunakan untuk berkomunikasi antarmember komunitas pun terbilang unik. Meski banyak member yang tergolong sudah lanjut, namun mereka tetap mengikuti perkembangan zaman.

Buktinya, selalu menggunakan fasilitas teknologi masa kini seperti halnya media sosial. Selain menggunakan media sosial, pertemuan rutin pun dilakukan untuk menjaga kekompakan. Saat ini, jumlah anggota komunitas ini pun sudah ratusan orang dan tersebar di seluruh Indonesia.

Masing-masing wilayah kota besar memiliki chapter sendiri-sendiri. Dari chapter tersebut, dua kali dalam setahun mereka berkumpul. Menurut Sukirman, kebersamaan dan rasa persaudaraan tersebut terlihat manakala ada beberapa kesulitan yang tengah dialami oleh salahsatu member.

“Misal ada yang lagi kena musibah, kami secara sukarela dan tanpa dikomandoi langsung bergerak saling membantu. Rasa persaudaraan tersebut yang tidak bisa kita dapatkan di manapun,” ujarnya.

Untuk member sendiri, berasal dari berbagai macam latar belakang. Ada yang pedagang, buruh, pejabat, dan mantan pejabat. Semua berkumpul karena memiliki hobi yang sama yaitu mengerjakan teka-teki silang sulit.

Sementara itu, Ketua Chapter Semarang Sri Endahening mengatakan bahwa pengalaman yang kerap ia rasakan selain rasa persaudaraan yaitu bagaimana keseruan ketika memecahkan sebuah soal TTS yang belum diketahui jawabannya.

Soal TTS tersebut lantas di share ke grup dan chapter-chapter lain. Dari mereka berlomba-lomba untuk memecahkan masalah tersebut. “Bahkan hampir semua member jika belum menemukan jawabannya sampai tidak bisa tidur, karena masih kepikiran terus,” ujarnya.

Menurutnya, selain menambah cakrawala, mengerjakan TTS Sulit bisa menjauhkan dari penyakit alzaimer. TTS Sulit yang dikerjakan bukan sembarang TTS. Karena hanya TTS yang berasal dari surat kabar yang hanya akan disantap.

Member Komunitas Kaki Langit ini pun terdiri atas lintas profesi. Mulai dari dokter, ahli hukum, hingga pedagang. “Tidak ada kesenjangan sosial, karena hanya ada satu tujuan dan rasa kebersamaan,” kata Sri.

Menurut Sri, TTS dari dulu hingga saat kini terus berkembang, hanya berisi persamaan kata. Komunitas ini juga pernah mengusulkan ke beberapa surat kabar agar memuat TTS yang berisi 60 persen ilmu pengetahuan. “Kami pernah mengusulkan isi kontennya yaitu membahas tentang sejarah,” lanjutnya.

Sehingga melalui TTS tersebut, bangsa Indonesia tidak lepas dari akarnya alias tidak kepaten obor. Mengerjakan TTS bukan karena hadiah yang diberikan oleh pihak surat kabar ketika berhasil menyelesaikan TTS tersebut. Namun karena kepuasan batin dan tantangan yang dihadapi.

Lama kelamaan, Paguyuban Kaki Langit tidak hanya menjadi kumpulan penggemar TTS. Menurut Sri ada ikatan emosional yang membuat mereka saling memiliki. Bahkan, ia mengaku, kalau lama tidak ketemu sering kangen. “Kami sudah seperti saudara. Kalau ada pertemuan kok tidak datang, saya seperti marah pada diri sendiri,” katanya. (*/ida)