Dunia Tak Selebar Layar Handphone

561
(Ivan Zakaria)
(Ivan Zakaria)
(Ivan Zakaria)
(Ivan Zakaria)

“Singkat cerita tentang alur perjalanan hati penulis, dimana semoga dia lah yang akan menjadi labuhan terakhirku”.

Banyak ungkapan yang tidak bisa dikatakan atau pun dijelaskan, karena awal mula aku mengenalmu hanya via handphone. Melalui aplikasi software bernama “what’s app”, aku mengenalmu sampai saat ini. Dunia memang tak selebar daun kelor, peribahasa yang sering dikatakan banyak orang. Akupun menyadari bahwa dunia juga tak selebar layar handphone (hp). Sulit dijelaskan, namun disini lah aku bisa membagi ceritaku tentangmu.

“Dunia Tak Selebar Layar Handphone”

Entah darimana asalnya, kamu hadir untuk pertama kali di dalam hidupku. Tak banyak kata, tapi aku bisa mengenalmu melalui forum “SM-3T”. Disitu kamu menyapa senyum berupa emoticon dihandphonemu. Aku tidak tahu pasti apakah arti senyum itu, sampai aku cari tahu profilmu pada teman dekatku bernama Aa (nama panggilan). Hal pertama ketika aku bercerita padanya adalah namamu. Tak jauh dari itu, ternyata dia adalah teman atau kakak kuliahmu dulu. Itu yang membuatku ber”nafsu” untuk mengenalmu. Aku bertanya banyak hal tentang kamu, disitu lah aku mulai penasaran akan hadirmu via “what’s app”. Katanya orang banyak mengagumimu, aku pun merasa hanya secuil roti basah yang sudah basi. Kenapa tidak? Karena mungkin orang lebih banyak mengenalimu saat pra-kondisi (SM-3T) yang lalu. Seraya aku hanya membayangkan bisa mengenalimu dan menjabat tanganmu. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk bisa kenal denganmu. Aku berusaha mendekatimu via “what’s app”, kata dekat bisa menambah teman atau relasi. Akupun mulai beranggapan kalau kamu adalah gadis what’s app yang manis. Aku selalu membuka foto profilmu disitu, dalam hati hanya bisa berkata “kenapa tidak mengenalmu dari dulu?”. Tuhan memang MAHA SEGALANYA, berawal dari tidak sengaja akupun mulai memberanikan diri untuk menyapamu untuk pertama kalinya secara pribadi di what’s app. Disitu jariku mulai bingung untuk mengetik kata-kata, entah aku yang gugup karena kita belum kenal sebelumnya, ataupun aku yang langsung grogi bisa berkenalan dengan gadis what’s app yang menyapaku di forum. Pada malam dimana aku bisa memberanikan diri itu, aku hanya bisa menghela nafas panjang setelah kamu membalas what’s appku. Betapa bahagianya aku pada malam itu, tangan mulai berkeringat hati mulai dag dig dug. Bahagia?iya. Senang?iya. Penasaran?iya. Disitu aku memulai percakapan untuk mengenalimu lebih dalam. Saat pertama kenal itu, kamu bertipikal humble, eaasy going, dan asyik diajak ngobrol. Sayang, jarak memisahkan kita untuk sementara, padahal aku ingin berjabat tangan denganmu saat ini.

Hari demi hari berlangsung, aku bisa mengenalmu sangat baik. Begitu juga harapku, kamu bisa menilaiku secara tidak langsung. Kamu adalah bu guru dan teman yang baik. Dibalik senyummu itu aku mulai membiasakan menghilangkan masalahku untuk pertama kalinya. Apalagi saat aku membuatkan hal-hal kecil untuk menghiburmu setiap hari. Seperti tulisan, voice note, ataupun gombal gambul yang selalu aku tujukan padamu. Mungkin kamu menilaiku aneh, tapi itu lah aku. Kamu adalah orang yang bisa memberiku warna yang berbeda, tidak semua namun paling tidak dengan senyummu itu aku sangat merasa berterima kasih secara tidak langsung. Bu guru berhidung pesek, itu lah sapaanmu dalam hatiku. Namun kamu selalu memanggil dirimu dengan sebutan “akika”, akika yang dalam bahasa Arab berarti “aku”. Sapaanmu sungguh unik, aku menyukainya. Lambat laun aku pun nggak bisa membendung feelingku, mungkin kamu menganggapnya aneh atau apa. Kenapa tidak?karena kita belum pernah bertemu sebelumnya tapi aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda yang entah berasal darimana datangnya. Mungkin dengan kedekatan kita sampai saat ini aku mampu mengerti kalau jarak mengajarkan kita banyak hal. Hal-hal kecil yang mungkin tidak kamu sadari namun aku mengerti apa makna dibalik hal kecil tersebut. Tidak ada hasil yang membohongi, aku hanya bisa memberimu senyuman setiap hari agar kamu bisa selalu ingat pada orang yang selalu membuatmu tersenyum. Mungkin aku tidak sendiri dalam mengenalmu, mungkin banyak orang diluar sana yang sudah mengenalmu terlebih dulu sebelum aku. But i don’t fuckin’ care, tujuanku adalah mengenalmu jauh lebih dalam dari yang sebelum-sebelumnya. Perasaanku adalah mutlak dan pikiranku tidak bisa menipuku.

Kalimantan Timur dan Maluku Utara adalah dua tempat dimana kita menginjakkan kaki kita sekarang ini. Tidak dekat tidak juga jauh, tempat dimana kita mengabdikan diri sebagai guru profesional. Terkadang aku sempat berfikir, mau kah kamu bertemu denganku saat kita pulang ke Jawa nanti? Atau mungkin ada seseorang yang menantimu terlebih dahulu daripada aku. Ah, masa bodoh! Yang terpenting aku harap aku bisa bertemu denganmu secara langsung. Kamu adalah serpihan hati malaikat yang aku temukan untuk aku simpan ditempat yang aman. Jujur saja, sampai saat ini aku mulai suka atas kedekatan kita. Kamu selalu terbuka, dan begitu juga sebaliknya denganku. Aku harap kamu adalah orang yang selalu memotivasiku saat aku jatuh ataupun sedih. Dan aku harap aku adalah orang yang mampu membuatmu selalu tersenyum saat kamu pilu. Apa yang membuatmu berbeda dimataku? Adalah senyummu dan sifat mandirimu yang selalu membuatku merasa minder. Karena aku merasa jauh lebih kecil dibandingkan kamu. Tapi dengan mengenalmu sejauh ini, aku merasa bersyukur dan terhormat bisa menjajaki kedekatan sejauh ini. Tuhan, ijinkan aku membahagiakanmu meskipun secara tidak langsung untuk saat ini. Semoga aku bisa melanjutkannya sampai kamu benar-benar menganggapku sebagai prioritasmu. Aku tidak terlalu berharap, tapi aku yakin dengan caraku aku bisa meluluhkanmu meskipun hanya sedikit.

“untuk Guru SD olahraga disitu, aku menulis ini karena aku ingin kamu tahu kalau kamu itu orang yang paling berharga buatku saat ini”. Kamu mungkin menertawakanku akan hal ini namun perlu kamu ketahui bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menaklukan sesuatu. Aku harap kamu masih mau menerima kehadiranku sampai nanti aku bisa menggandeng tanganmu.

Seperti itulah kurang lebih cerita dari dalam hatiku yang bisa aku tuliskan untukmu.

Salam sapaku untukmu

Hanarima Andriani (akika)