Ada Dugaan, Gedung Sengaja Dirusak agar Roboh

Bekas Kantor Redaksi Koran De Locomotief Dibiarkan Hancur

233
BERSEJARAH: Gedung tua di Jalan Kepodang nomor 20-22, Kawasan Kota Lama, Semarang tak dipedulikan dan terbiar rusak parah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSEJARAH: Gedung tua di Jalan Kepodang nomor 20-22, Kawasan Kota Lama, Semarang tak dipedulikan dan terbiar rusak parah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSEJARAH: Gedung tua di Jalan Kepodang nomor 20-22, Kawasan Kota Lama, Semarang tak dipedulikan dan terbiar rusak parah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSEJARAH: Gedung tua di Jalan Kepodang nomor 20-22, Kawasan Kota Lama, Semarang tak dipedulikan dan terbiar rusak parah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Gedung tua di Jalan Kepodang nomor 20-22, Kawasan Kota Lama, Semarang, adalah saksi bisu perjalanan sejarah koran cetak di Indonesia. Dulu adalah kantor redaksi koran harian cetak De Locomotief yang terbit di zaman Kolonial Belanda. Namun bangunan bersejarah tersebut kini tak dipedulikan dan terbiar rusak.

ABDUL MUGHIS

BANGUNAN tua yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Kota Semarang ini, turut menorehkan sejarah atas lahirnya sejumlah tokoh kondang di Indonesia. Sebut saja, dr Cipto, dr Soetomo, Semaun, Tan Malaka dan lain-lain. Tercatat juga, seorang Pemimpin Redaksi (Pemred) Koran De Locomotief adalah Pieter Brooshooft. Sedangkan, pembaca koran ini tersebar di seluruh penjuru tanah Hindia Belanda dan Eropa.

Para tokoh yang juga sastrawan tersebut, dikenal sebagai penyokong dan penggagas utama atas lahirnya kebijakan politik etis bersama Van Deventer, politikus yang berhasil membuka mata pemerintah Kolonial Belanda untuk memperjuangkan nasib pendidikan pribumi yang terbelakang.