UNGARAN- Pemindahan ibu kota Kabupaten Semarang semakin menguat. Hal itu dikuatkan dengan akan mulai dibahasnya rancangan peraturan daerah (Raperda) inisiatif DPRD Kabupaten Semarang tentang Pemidahan Ibu Kota Kabupaten Semarang. Ada dua alternatif lokasi untuk ibu kota Kabupaten Semarang yakni di wilayah Bawen atau Tuntang.

“Tadi (Senin (18/1) sudah dilakukan penandatangan kerjasama dengan bupati terkait prolegda (program legislasi daerah). Ada 22 raperda usulan eksekutif dan 4 raperda inisiatif dari legislatif,” tutur Ketua Baleg DPRD Kabupaten Semarang, Kusulistyono, kemarin.

Kusulistyono mengatakan, 4 raperda inisiatif legislatif antara lain tentang masalah wawasan kebangsaan, pertanian, lingkungan hidup dan pemindahan ibukota Kabupaten Semarang. Dalam raperda pemindahan ibu kota Kabupaten Semarang itu ada dua kecamatan yakni Tuntang dan Bawen yang akan dibahas sebagai lokasi alternatif untuk ibu kota. “Keberadaan Bawen maupun Tuntang berada di tengah-tengah. Sehingga dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu juga akan dibahas rencana membuat satu komplek kantor pemerintahan. Sehingga akan memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan administrasi pemerintahan. Hanya saja saat ini di kawasan Bawen maupun Tuntang belum ada lahan milik Pemerintah Kabupaten Semarang yang luasnya memadai serta lokasinya strategis. “Kita tentunya akan berupaya mencari lahan untuk komplek perkantoran. Bisa saja membeli atau menggunakan sistem tukar guling. Asal legislatif dan eksekutif satu suara tentu rencana ini akan dapat segera diwujudkan,” imbuhnya. Rencana pemidahan ibu kota Kabupaten Semarang di Bawen atau Tuntang mendapat dukungan warga.

Tokoh masyarakat Desa Lemah Ireng, Kecamatan Bawen, Winarno, 43, mengatakan Bawen adalah posisi strategis untuk sebuah ibu kota Kabupaten. Sebab berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Semarang. Selain itu juga memiliki akses masuk dan keluar tol, ada terminal Bawen. “Di Bawen cukup bagus, begitu juga di Tuntang karena Tuntang dan Bawen lokasinya berdekatan,” ungkapnya.

Winarno menambahkan, semestinya Pemerintah Kabupaten Semarang tidak perlu bingung mencari lahan untuk membangun komplek perkantoran. Sebab di Bawen ada perkebunan Banaran Kafe milik PT Perkebunan Nasional IX (PTPN) yang sangat luas dan lokasinya berada di pinggir jalur utama. “Tinggal melakukan musyawarah untuk tukar guling lahan saja. Saya rasa penggunaan tanah untuk kepentingan negara tidak ada salahnya menggunakan lahan PTPN,” pungkasnya. (tyo/zal)