SEMARANG – Suplai air PDAM Tirta Moedal Kota Semarang belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah tingkat kebocoran air yang hingga kini masih mencapai 40 persen dari total air baku yang diproduksi perusahaan pelat merah tersebut. Pada 2016 ini, PDAM berharap bisa menekan kebocoran sebesar 4 persen.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Etty Laksmiwati mengatakan, akan terus melakukan upaya menekan angka kebocoran air di wilayahnya. Salah satu upayanya yakni dengan mengganti pipa-pipa yang telah usang dan terdapat kebocoran. ”Hasilnya di tahun 2015 tingkat kebocoran masih menyisakan sekitar 40 persen dari total air yang diolah perusahaan,” katanya.

Jumlah itu diakui masih cukup besar. Namun persentase tersebut, katanya, sudah jauh lebih baik bila dibandingkan di 2013 dan 2014 lalu. Di mana tingkat kebocoran air masih hampir 50 persen dan 45,9 persen.

Adanya penurunan tingkat kebocoran ini, dimanfaatkan PDAM untuk menambah sambungan baru. ”Di mana tahun 2015 mencapai 9.250 sambungan baru,” ujarnya.

Dengan semakin minimnya tingkat kebocoran ini, pihaknya menargetkan di 2016 dapat memperoleh laba hingga Rp 12 miliar. Sebab selain tingkat kebocoran semakin sedikit, utang PDAM juga sudah tidak ada. ”Di 2016, meski secara business plan target penurunan tingkat kebocoran 2%, tapi yakin mampu mencapai 4 persen,” tegasnya.

Faktor utuma terjadi kebocoran, tambahnya, adalah pipa-pipa yang sudah usang. Belum lama ini pihaknya berhasil mereposisi pipa di jembatan pleret. Selesainya proyek reposisi pipa pleret itu, menekan tingkat kehilangan air dan menambah pelayanan di cabang barat.

Pihaknya juga membentuk zona atau wilayah pelayanan, tiap wilayah diberi meter induk, untuk mencocokkan dengan meter air pelanggan. ”Sehingga kalau ada kebocoran, bisa langsung dicari di mana kebocorannya,” katanya. Tahun ini akan dibentuk 20 zona, yang akan menambah yang sudah ada yakni 80 zona.