TINJAU GEDUNG BARU: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak ngobrol salah satu pendonor darah saat meninjau gedung UTD di Markas PMI Jateng. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINJAU GEDUNG BARU: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak ngobrol salah satu pendonor darah saat meninjau gedung UTD di Markas PMI Jateng. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINJAU GEDUNG BARU: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak ngobrol salah satu pendonor darah saat meninjau gedung UTD di Markas PMI Jateng. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINJAU GEDUNG BARU: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak ngobrol salah satu pendonor darah saat meninjau gedung UTD di Markas PMI Jateng. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Bencana alam yang kerap terjadi di Jawa Tengah menjadi perhatian Gubernur Ganjar Pranowo. Terlebih, Jateng telah ditunjuk menjadi kiblat dunia soal penanggulangan bencana alam dengan memberikan predikat Global Champion for Disaster Risk Reduction atau juara dunia dalam pengelolaan bencana.

Sudah bukan rahasia lagi jika Jateng merupakan gudangnya bencana alam. Nyaris segala jenis bencana berpotensi terjadi di provinsi ini. Seperti tsunami, gunung meletus, tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya. Dari serangkaian bencana alam itu, ada ciri khas yang yang dimiliki warga Jateng. Yaitu kemauan untuk terlibat dalam penanggulangan bencana.

”Pasti ada kemauan untuk membantu meski tanpa skill yang mumpuni. Sistem gotong royong ini yang harus dijaga. Tapi mereka juga harus mendapatkan pengetahuan untuk mengasah kemampuan penanggulangan bencana,” kata Ganjar setelah meresmikan gedung Unit Transfusi Darah (UTD) dan Markas Palang Merah Indonesia (PMI) di kompleks PMI Center Sambiroto, Semarang, Sabtu (16/1).