KALIGAWE – Olahraga memang membuat badan menjadi bugar dan sehat. Namun jika dilakukan tanpa batas dan waktu yang tidak tepat, bukan kebugaran yang didapat tapi justru mendatangkan penyakit.

Banyak penyakit degeneratif, semacam penyakit jantung, kanker, stroke dan sebagainya yang bisa dicegah dengan olahraga. Tetapi jika seseorang berolahraga terlalu keras dan lama dari biasanya atau berlebihan, bisa menyebabkan rendahnya kadar gula darah (glukosa) berada di bawah batas normal atau dalam dunia medis dikenal hipoglikemia.

”Jadi penyebab hipoglikemia adalah ketidakseimbangan antara jumlah makanan, latihan jasmani (olahraga) dan pengaruh obat-obatan tertentu,” ungkap perawat Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), Siti Arofah, dalam dialog kesehatan di RSI Sultan Agung, kemarin.

Arofah menambahkan terdapat tiga kategori seseorang dikatakan mengalami hipoglikemia. Pertama, hipoglikemia ringan apabila kadar glukosa darah pada kisaran antara 50 hingga 60 mg/dl. ”Untuk tipe ini sering muncul rasa gelisah dan rasa lapar,” katanya.

Sedangkan kedua, hipoglikemia sedang bila kadar gula darah kurang dari 50 mg/dl. Biasanya ditandai dengan ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, bicara pelo dan sebagainya. Sedangkan ketiga paling berbahaya, bila seseorang kadar gula darahnya kurang dari 25 mg/dl. ”Pada kondisi seperti ini, akan muncul gangguan pada sistem saraf pusat dan memerlukan pertolongan orang lain,” katanya.

Arofah mengimbau, ketika penderita hipoglikemia sudah memasuki tingkat berat, maka dianjurkan rajin memantau kadar gula, terutama bagi seorang yang sering berolahraga dengan frekuensi yang lama. ”Bila sudah ada gejala hipoglikemia ringan, perbanyak makanan atau minuman yang banyak mengandung gula. Seperti jus buah, permen atau bahkan minuman ringan. Makanan yang karbohidratnya bisa diubah menjadi gula secara cepat. Seperti roti lapis, sereal, biskuit,” katanya. (hid/zal/ce1)