Mutasi Besar-Besaran Dinilai Tidak Efektif

156

SALATIGA- Mutasi besar–besaran yang dilakukan wali kota beberapa waktu lalu dinilai kurang efektif. Sebab, mutasi dilakukan saat masa jabatan wali kota tinggal beberapa bulan. Padahal pekerjaan rumahnya masih sangat besar, utamanya pembangunan fisik. Hal itu diungkapkan H Suniprat, anggota Komisi C DPRD Kota Salatiga kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

“PR (pekerjaan rumah) pembangunan masih sangat banyak, jika mutasi tujuannya hanya untuk percepatan pembangunan, saya kok pesimistis. Mengingat beberapa bulan ke depan kepala daerah sudah selesai masa baktinya,” jelas Suniprat yang juga Ketua Fraksi PDIP tersebut.

Beberapa hal yang disoroti antara lain penempatan pejabat yang memiliki track record kurang maksimal saat menjabat di tempat lama. Suniprat mengharapkan, pembenahan ini harus dilakukan bertahap, dan seharusnya sejak awal dulu bukan ketika menjelang berakhir baru dikebut.

Disinggung soal pembangunan fisik, ia semakin tidak yakin semua bisa berjalan baik. Pasalnya, butuh kenyamanan dan keamanan para pejabat untuk melaksanakan proyek. Jika pelaksana program merasa terlindungi, tentunya pembangunan berjalan cepat dan baik tanpa harus dikebut.

Kepala Bagian Humas Setda Salatiga, Adi Setiarso, membantah hal tersebut. Menurutnya, pembangunan yang dilaksanakan sudah maksimal. Kalau toh ada kendala, itu juga dialami hampir di semua wilayah.

“Memang yang mengganjal antara lain pembangunan fisik, dan kini sedang dikejar untuk dilaksanakan. Bahkan sekda juga berkantor di SKPD besar yang rawan pembangunan fisik,” jelas Adi Setiarso, kemarin. SKPD besar antara lain Cipkataru dan Disdikpora yang memiliki banyak program.

Sebagaimana diketahui, wali kota memutasi dan promosi 99 pejabat di lingkungan Pemkot Salatiga. Mulai dari kepala dinas hingga staf dan kepala sekolah digeser. Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja, penyegaran, dan percepatan pembangunan. (sas/aro)