KALIBANTENG – Puncak musim hujan yang biasanya terjadi pada Januari mundur. Salah satu penyebabnya, masih terjadi fenomena alam berupa el nino di perairan laut Jawa, sehingga suhu panas di wilayah Jawa Tengah termasuk Semarang mencapai 35 derajat.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang, Reni Kraningtyas mengatakan jika pada siklus normal seharusnya di Januari merupakan musim hujan. Namun prediksi tersebut tidak terjadi pada tahun ini, karena fenomena el nino yang membuat beberapa wilayah di Jateng mengalami peningkatan suhu udara panas. ”Potensi turun hujan di bulan ini sangat sedikit. Walaupun begitu, hujan lebat yang disertai angin dan petir dengan waktu singkat bisa saja terjadi,” katanya.

Hujan lebat disertai angin yang terjadi, lanjutnya, walaupun dengan durasi waktu yang singkat bisa menyebabkan potensi puting beliung di semua wilayah yang ada di Jawa Tengah. ”Kecepatan angin bisa mencapai 40 sampai 45 km/jam. Terutama di wilayah yang jarang ada pepohonan tumbuh dan banyak terjadi polusi udara, menyebabkan tumbuhnya awan sibi (kumulonimbus),” tuturnya.

Menurutnya, beberapa daerah seperti Temanggung, Wonosobo, Banyumas, Cilacap, Batang, Pekalongan, akan mengalami siklus yang berbeda dibandingkan wilayah Semarang, Kendal, Demak, Salatiga yang cenderung kering dan mengalami peningkatan suhu. ”Untuk Jateng bagian barat dan atas, akan terjadi hujan,” tambahnya.

Perbedaan siklus tersebut, terjadi lantaran adanya perbedaan kelembapan udara antara 80 sampai 100 persen. Sehingga potensi hujan bisa terjadi dengan intensitas yang cukup besar. ”Sementara untuk Jawa Tengah bagian barat dan atas, akan berpotensi banjir dan longsor,” tutupnya. (den/ida/ce1)