Petani Buta Huruf Dituntut 5 Tahun Penjara

199
TUNTUTAN: Sidang dua terdakwa Sakimin dan Andi Poedjo yang dituntut berat oleh jaksa di Pengadilan Tipikor Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
TUNTUTAN: Sidang dua terdakwa Sakimin dan Andi Poedjo yang dituntut berat oleh jaksa di Pengadilan Tipikor Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
TUNTUTAN: Sidang dua terdakwa Sakimin dan Andi Poedjo yang dituntut berat oleh jaksa di Pengadilan Tipikor Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
TUNTUTAN: Sidang dua terdakwa Sakimin dan Andi Poedjo yang dituntut berat oleh jaksa di Pengadilan Tipikor Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

MANYARAN – Seorang petani buta huruf dituntut lima tahun penjara atas dugaan korupsi dana Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Desa Teguhan, Kabupaten Grobogan pada 2014. Petani tersebut bernama Sakimin. Selain itu terdakwa lain adalah adik dari Kepala Desa Teguhan, Andi Poedjo Soebroto, tuntutan tersebut dijatuhkan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (13/1).

Ironis memang, pada kasus seorang kepala pemerintahan yang terjerat perkara korupsi hanya dituntut dan vonis ringan padahal merugikan keuangan miliaran rupiah. Berbeda dengan kedua terdakwa tersebut yang hanya merugikan keuangan negara Rp 500.520.000, namun tuntutannya begitu berat, ironisnya lagi kerugian tersebut hanya dinikmati Andi bukan petani Sukimin.

Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejari Purwodadi, Djohar Arifin terdakwa Sakimin dituntunt pidana 5 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 4 bulan kurungan. Sementara terdakwa Andi Poedjo Soebroto dituntut 7 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 4 bulan kurungan serta diwajibkan membayar Uang Penganti (UP) kerugian negara Rp 500.520.000 subsider 2 bulan kurungan.