La Nyalla Mundur, Kompetisi Jalan

Dianggap Gagal Pimpin PSSI, Harus Legawa

249
RINDU KOMPETISI: Para pemain PSIS rindu bertanding serta ditonton puluhah ribu Panser Biru dan Snex. Kota Semarang punya puluhan ribu suporter fanatik yang begitu merindukan PSIS, tim kesayangan mereka, kembali berkompetisi. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RINDU KOMPETISI: Para pemain PSIS rindu bertanding serta ditonton puluhah ribu Panser Biru dan Snex. Kota Semarang punya puluhan ribu suporter fanatik yang begitu merindukan PSIS, tim kesayangan mereka, kembali berkompetisi. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RINDU KOMPETISI: Para pemain PSIS rindu bertanding serta ditonton puluhah ribu Panser Biru dan Snex. Kota Semarang punya puluhan ribu suporter fanatik yang begitu merindukan PSIS, tim kesayangan mereka, kembali berkompetisi. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RINDU KOMPETISI: Para pemain PSIS rindu bertanding serta ditonton puluhah ribu Panser Biru dan Snex. Kota Semarang punya puluhan ribu suporter fanatik yang begitu merindukan PSIS, tim kesayangan mereka, kembali berkompetisi. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Suara-suara ketidakpuasan atas kepemimpinan PSSI dibawah komando La Nyala Mattaliti yang ditengarai menjadi salah satu penyebab kevakuman sepak bola Indonesia terus menggema. Kepemimpinan pria asal Jawa Timur itu dinilai gagal dari berbagai aspek. Salah satunya aspek komunikasi.

Pemerhati olahraga Jateng, Muh Zen mengatakan, komunikasi yang kurang baik dengan pemerintah dan anggota justru menyebabkan persepakbolaan Indonesia makin tak menentu dan kini disaksi FIFA. ”Seharusnya, setelah La Nyalla terpilih menjadi ketua umum PSSI dalam kongres luar biasa (KLB), 18 April 2015 lalu, dia langsung berkomunikasi dengan pemerintah. Hal itu tidak dilakukannya, sehingga ribuan pemain, pelatih dan pelaku sepak bola lainnya menjadi korban,” kata pria yang juga anggota Komisi E DPRD Jateng itu.

Kini, meski ada sejumlah turnamen, namun kompetisi nasional tidak bisa berjalan. Tak hanya itu, turnamen dan kompetisi usia pembinaan level nasional yang biasa diputar, seperti Piala Soeratin tidak bisa terlaksana. Dampaknya, para pemain tidak memiliki muara, usai melakukan latihan di klubnya masing-masing.