HARUMKAN DAERAH : Pelatih renang nasional Suprapto bersama istrinya, menunjukan ratusan piagam penghargaan di gudang sekolah SDLB yang menjadi tempat tinggalnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARUMKAN DAERAH : Pelatih renang nasional Suprapto bersama istrinya, menunjukan ratusan piagam penghargaan di gudang sekolah SDLB yang menjadi tempat tinggalnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARUMKAN DAERAH : Pelatih renang nasional Suprapto bersama istrinya, menunjukan ratusan piagam penghargaan di gudang sekolah SDLB yang menjadi tempat tinggalnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARUMKAN DAERAH : Pelatih renang nasional Suprapto bersama istrinya, menunjukan ratusan piagam penghargaan di gudang sekolah SDLB yang menjadi tempat tinggalnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Lantaran gaji sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) habis untuk membiayai dan melatih anak didiknya sebagai altet renang, Suprapto, 46, yang kesehariannya sebagai guru olah raga SD Negeri Kepatihan 01, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, rela hidup di gudang Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) selama 13 tahun.

DENGAN beralaskan tanah dan beratap seng dengan kondisi bangunan yang nyaris roboh, Suprapto, mengungkapkan bahwa dirinya sedang bingung mencari tempat tinggal baru. Karena gudang SDLB yang ditempatinya selama 13 tahun, akan digusur dan dibangun ruang kelas baru.

Padahal selama 13 tahun menjadi guru sekaligus pelatih renang, seluruh pendapatannya habis untuk biaya melatih renang. Sedangkan bantuan dari KONI Kabupaten Pekalongan, hanya berupa uang pembinaan sebesar Rp 900 ribu untuk 4 orang atlet dalam setahun. Padahal ada 60 atlet renang yang harus dilatih untuk menjadi juara renang tingkat Nasional.