PEDULI SEJARAH : Belasan anak muda pecinta budaya Pekalongan menyelamatkan bangunan bersejarah dengan mengecat ulang bekas vandalisme tersebut, Rabu (6/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SEJARAH : Belasan anak muda pecinta budaya Pekalongan menyelamatkan bangunan bersejarah dengan mengecat ulang bekas vandalisme tersebut, Rabu (6/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SEJARAH : Belasan anak muda pecinta budaya Pekalongan menyelamatkan bangunan bersejarah dengan mengecat ulang bekas vandalisme tersebut, Rabu (6/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SEJARAH : Belasan anak muda pecinta budaya Pekalongan menyelamatkan bangunan bersejarah dengan mengecat ulang bekas vandalisme tersebut, Rabu (6/1) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Belasan anak muda pecinta budaya Pekalongan miris dengan aksi vandalisme yang merebak di Kota Pekalongan. Lantaran mengotori bangunan bersejarah tugu nol kilometer buatan W Deandles. Atas keprihatinan tersebut, mereka tergerak menyelamatkan bangunan bersejarah dengan mengecat ulang bekas vandalisme tersebut, Rabu (6/1) kemarin.

Ahli sejarah Pekalongan, Arif Dirhamsyah menjelaskan bahwa tugu kecil berbentuk Kotak Pos yang berada di kawasan Jatayu Pekalongan tersebut merupakan titik nol kilometer, jalur klasik W Daendels atau Tugu MYPAAL.

Dalam bahasa Belanda, MYL artinya satuan hitung, PAAL artinya tanda jarak atau titik. Tugu tersebut, dibangun saat membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan sejauh 1.100 kilometer yang merupakan gagasan dari Daendels sendiri pada tahun 1808. Juga, diklaim merupakan titik nol atau titik tengah pulau Jawa. “Kami sayangkan, ada kelompok yang tidak bertanggung jawab telah merusak tugu ini,” sesalnya.