Perlu Intervensi Penjualan Garam

253
KONTRIBUSI TINGGI: Produksi garam Jateng menyumbang 25 persen kebutuhan garam nasional. (DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN JATENG for Radar Semarang)
KONTRIBUSI TINGGI: Produksi garam Jateng menyumbang 25 persen kebutuhan garam nasional. (DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN JATENG for Radar Semarang)
KONTRIBUSI TINGGI: Produksi garam Jateng menyumbang 25 persen kebutuhan garam nasional. (DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN JATENG for Radar Semarang)
KONTRIBUSI TINGGI: Produksi garam Jateng menyumbang 25 persen kebutuhan garam nasional. (DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN JATENG for Radar Semarang)

SEMARANG – Meski produksi garam di Jateng punya kontribusi hingga 25 persen di Indonesia atau nomor dua setelah Jatim, tapi kesejahteraan petani dirasa belum diperhatikan. Sebab, hasil panen petani dibeli dengan harga relatif murah. Bahkan kerap menyentuh floor price, terlebih ketika panen raya datang.

”Padahal, masa panen nyaris berbarengan. Dalam setahun, petani hanya punya lima bulan untuk menggarap lahan garam. Itu pas musim hujan,” ucap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Lalu Syafriadi ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, kemarin.

Karena itu, untuk menjaga stabilitas harga dari tangan petani, butuh intervensi dari pemerintah terkait. Lalu ingin ada peran seperti Bulog yang bisa menjaga kesejahteraan garam. Ada pihak pemerintah yang mau membeli dengan harga tinggi dari petani meski tengah mengalami over stock. ”Kalau kapasitas kami hanya sebatas membantu petani garam saja. Bukan sampai masalah penjualan hasil panen,” paparnya.