Adik Utang Bank, Rumah Kakaknya Disita

241

PEKALONGAN-Sungguh tragis, nasib perajin batik, Indayah warga Kradenan gang 2 Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan. Rumahnya disita bank, setelah adik iparnya yang menjaminkan rumah tersebut gagal bayar angsuran kredit, Senin siang (4/1) kemarin.

Padahal wanita paruh baya tersebut sampai sujud di kaki petugas juru sita, memohon-mohon agar rumahnya tidak disita. Namun petugas tetap bersikukuh mengosongkan rumahnya. Sambil terus menangis histeris, dirinya terus mengatakan bahwa yang melakukan utang piutang bukanlah dirinya, tapi adiknya.

Dimyati salah satu kerabat pemilik rumah mengatakan bahwa pihak pemilik rumah beranggapan proses eksekusi tersebut mendadak. “Eksekusi ini sangat mendadak dan keputusannya juga sepihak. Sehingga keluarga kaget,” ucapnya.

Ditambahkan Dimyati, sang pemilik rumah sendiri Mahmud (suami Indayah) tidak mengetahui bahwa rumahnya akan disita bank, setelah melalui proses pengadilan. “Sebenarnya yang melakukan utang-piutang adalah Mohammad Nur adik Mahmud,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, pemilik rumah juga kecewa dengan pihak bank yang dengan mudah memberikan pinjaman hingga Rp 250 juta. Namun tidak memberitahukan sang pemilik rumah resmi, karena sertifikat menjadi agunan di bank. “Tiga tahun lalu, memang kami meminjamkan sertifikat rumah ke adik, untuk jaminan utang bank,” tuturnya.

Walaupun berlangsung alot dan dramatis, petugas pengadilan akhirnya tetap mengosongkan rumah tersebut, dengan pengawalan ketat dari kepolisian. Sang pemilik rumah, akhirnya pasrah rumahnya dikosongkan. Walaupun salah satu anaknya sedang sakit, juga terpaksa harus keluar dari rumah yang sudah puluhan tahun digunakan untuk memproduksi batik.

Warga sekitar yang turut menyaksikan kejadian tersebut hanya melihat dari jauh, lantaran tidak bisa berbuat banyak. Selain itu, banyak petugas dari pengadilan dan polisi mengawal ketat proses eksekusi rumah tersebut. (han/ida)