Pemprov Janji Pecah Kebuntuan

Pembangunan Jateng Park Terus Molor

122

SEMARANG – Meski terus molor, pemprov tetap optimistis pembangunan Jateng Park di Wana Wisata Penggaron bisa direalisasikan pada 2016 ini. Tim Pengembangan Wana Wisata Penggaron berjanji proaktif memecah kebuntuan terkait aturan pemanfaatan hutan produksi tersebut sebagai tempat wisata.

”Tanpa landasan aturan pemanfaatan hutan produksi, Jateng Park tak akan terwujud,” kata Sekretaris Tim Pengembangan Wana Wisata Penggaron Pemprov Jateng, Peni Rahayu. Selain itu, dikatakan Peni, dalam hal ini investor juga enggan bila tak ada aturan pemanfaatan.

Pihaknya tidak bisa meminta pelepasan, karena pengelolaan hutan di Jateng ada pada Perum Perhutani. ”Aturan yang digunakan peraturan pemerintah, tapi ini perlu penjabaran berupa peraturan menteri. Ini yang kami tunggu,” katanya.

Menurutnya, dalam Peraturan Pemerintah Pasal 31 ayat 2 huruf b dan Pasal 33 ayat 1 huruf c Nomor 6/2007 tentang Tata Hutan dijabarkan mengenai pemanfaatan hutan produksi sebagai wisata alam. Tetapi rincian aturan dari PP tersebut berupa Permen masih dalam tahap finalisasi.

”Saya sudah dapat draf finalnya dari kementerian. Di dalamnya diatur mengenai bentuk wisata alam. Semua konsep wisata di Jateng Park sudah terakomodir dalam Permen,” katanya.

Dalam pemanfaatan hutan produksi, menurut Peni, investor nantinya akan dikenai pungutan resmi berupa yang tergolong pemasukan negara bukan pajak (PNBP). Pungutan terkait dengan pemberian izin usaha pariwisata di hutan produksi.

”Bayarnya sekali saja. Dihitung per hektare. Tapi sekarang belum tahu besaran biayanya,” katanya. Lahan yang dimanfaatkan untuk Jateng Park diperkirakan mencapai 200 hektare dan 20 hektare atau 10 persen di antaranya dapat diubah bentang alamnya.

Di dalam Jateng Park nantinya terdapat tujuh cluster, yakni jalan masuk (sebelumnya rest area), theme park, water park, eco safari, eco lodge, retention lake, dan konservasi hutan. Peni menambahkan, terdapat perubahan tata letak jalan masuk dan keluar. Semua akses masuk dan keluar diintegrasikan dengan rest area di KM 20 tol Semarang-Bawen, tetapi menurut aturan tak bisa.

Silakan beri komentar.