ADU KICAU BURUNG: Sejumlah anggota BnR tengah mencantolkan burung ke galangan arena lomba di GOR Jatidiri, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ADU KICAU BURUNG: Sejumlah anggota BnR tengah mencantolkan burung ke galangan arena lomba di GOR Jatidiri, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ADU KICAU BURUNG: Sejumlah anggota BnR tengah mencantolkan burung ke galangan arena lomba di GOR Jatidiri, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ADU KICAU BURUNG: Sejumlah anggota BnR tengah mencantolkan burung ke galangan arena lomba di GOR Jatidiri, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Siapa bilang BnR hanya sekumpulan orang penghobi burung kicau. BnR yang kini memiliki jutaan anggota ini, justru punya misi sosial dan ekonomi yang menjadi cikal bakal lahirnya komunitas-komunitas burung. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

MEMELIHARA burung kicau sebenarnya sedang digandrungi banyak orang. Sebab, selain bisa dinikmati ocehannya, burung yang pernah mendapat predikat juara bisa laku ratusan juta rupiah, bahkan miliaran.

Namun perjalanan para penyuka burung, memang tidak semulus jalan tol. Yang menggembirakan, meski banyak hambatan, semakin membuat orang kreatif membuka peluang baru. Mereka ini yang menyebut dirinya BnR. Sebuah organisasi yang dihuni ribuan penyuka burung kicau.

Pendiri BnR Bang Boy menceritakan, kelahiran organisasi ini berdasarkan keprihatinan terhadap terpuruknya pengusaha burung yang terjadi beberapa tahun silam. Saat itu, ketika flu burung merebak, tidak sedikit penangkar dan pedagang burung yang gulung tikar. Harganya anjlok lantaran dituding sebagai salah satu unggas penyebar virus mematikan itu. Dari situ, Bang Boy membuat konservasi lahan pekerjaan baru. Yaitu kembali membangkitkan penangkaran burung, terutama burung kicau, dengan menampik isu-isu miring soal flu burung.

”Flu burung memang menyebar lewat unggas. Tapi bukan burung kicau,” tegasnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang dalam Lomba Kicau Burung BnR Regional Jateng di areal Gelanggang Olahraga (GOR) Jatidiri, Minggu (3/1) kemarin.

Usaha Bang Boy tidak sia-sia. Banyak penyuka burung yang melakukan penangkaran. Bahkan, sejak terbentuknya BnR, 13 Desember 2007 silam, banyak pengangguran yang bisa mendapat nafkah dari usaha penangkaran. ”Para penangkar paling banyak dari mereka yang jadi korban PHK,” tegasnya.

Meski begitu, usaha penangkaran itu bukan tanpa halangan. Sebab, tidak semua burung bisa ditangkar. Butuh riset khusus agar beberapa jenis burung kicau bisa berkembang biak di alam buatan. Tapi, ketika berhasil, harga jual burung tersebut akan dinaikkan.

Caranya dengan mengadakan lomba. Contohnya, dulu Jalak Bali sudah dianggap punah. Tapi ketika ada penangkar yang sukses melestarikannya, burung itu kembali mudah ditemui. Nah, untuk memberikan apresiasi kepada penangkar tersebut, Bang Boy membuka lomba kicau Jalak Bali. Praktis, peminatnya akan bertambah banyak.

”Soalnya kalau sudah menang lomba, harga jualnya langsung melambung. Seperti Murai Batu. Harga dari penangkar sekarang sekitar Rp 3 juta-Rp 5 juta. Tapi jika pernah menang diperlombaan, sangat prestisius, bisa sampai Rp 1 miliar,” ucapnya.

Ketika pelestarian burung-burung yang hampir punah terbilang sukses, Bang Boy tidak langsung gembira begitu saja. Rasanya seperti makan buah simalakama. Sebab, ketika populasinya overload, burung tersebut tidak bisa dilepas di alam bebas.

”Hutan sudah banyak yang gundul. Tidak ada alam liar yang bisa dijadikan habitat baru mereka. Mau dijual ekspor, tidak diizinkan. Kalau tidak ditangkar, nanti bisa punah,” tegasnya.

Usaha melestarikan varian langka itu membuat BnR yang punya koordinator wilayah (korwil) di seluruh provinsi di Indonesia –kecuali Papua– ini ditunjuk sebagai konsultan Departemen Kehutanan masalah konservasi burung.
Selain penangkaran, BnR juga membuka usaha menjual produk seputar kebutuhan merawat burung. Seperti pakan, vitamin, obat-obataan, dan lain sebagainya. Produk yang diproduksi sendiri oleh tim BnR kini mampu meraup untung hingga triliunan rupiah. ”Biasanya, produk-produk tersebut dijual oleh anggota BnR yang berada di daerah-daerah,” imbuh Bang Boy.

Untuk menjadi anggota BnR, tidak ada syarat khusus. Bahkan tidak diwajibkan membayar uang pendaftaran atau iuran bulanan. Bang Boy mengakui BnR dibentuk karena merasa sama-sama suka dengan burung. Bukan untuk mencari keuntungan.

Ketua Korwil Jateng, Budi Setyo Purnomo menambahkan, meski anggotanya tidak dikenai beban, tapi BnR punya sistem yang profesional. Terlihat perekrutan juri lomba yang cukup ketat. Ya, juri BnR bukan orang sembarangan. Ada diklat dan pelatihan khusus untuk bisa menyandang sebutan juri di BnR.

”Kami juga akan menindak tegas jika ada juri yang kurang benar ketika memimpin perlombaan. Soalnya, kalau ada kurang profesional, bisa memicu pemain burung untuk main taruhan,” tegasnya. (*/ida/ce1)