SUSUN PROGRAM: Ketua umum KONI Jateng Hartono bersama para wakil ketua umum saat memimpin RAT KONI Jateng 29 Desember 2015 lalu. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSUN PROGRAM: Ketua umum KONI Jateng Hartono bersama para wakil ketua umum saat memimpin RAT KONI Jateng 29 Desember 2015 lalu. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSUN PROGRAM: Ketua umum KONI Jateng Hartono bersama para wakil ketua umum saat memimpin RAT KONI Jateng 29 Desember 2015 lalu. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSUN PROGRAM: Ketua umum KONI Jateng Hartono bersama para wakil ketua umum saat memimpin RAT KONI Jateng 29 Desember 2015 lalu. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Agenda Rapat Anggota Tahunan (RAT) KONI Jateng yang diikuti 35 KONI kabupaten/kota dan 60 pengprov/badan fungsional beberapa waktu lalu selain berisi laporan pertanggungjawaban KONI selama setahun, juga menyusun program kerja untuk tahun 2016 mendatang.

Menurut Ketua Umum KONI Jateng Hartono, untuk program kerja lebih banyak pada strategi meraih prestasi optimal di PON XIX Jabar. Jateng, kata dia, akan berupaya meningkatkan prestasi dibanding PON 2012 lalu. ”Beberapa program yang kami siapkan tentu bagaimana cara kita meningkatkan prestasi di PON 2016. Misalnya kita tetap akan mempertahankan pelatih asing, pelatih nasional dan mengawal khusus atlet-atlet potensial,” kata Hartono.

Dikatakannya, hal lain yang akan diwacanakan dalam forum RAT adalah menggelar Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) menjadi dua wilayah, sebelum pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Jika sebelumnya ada Porwil Dulongmas, maka ada satu wilayah lagi yang mengadakan Porwil. ”Katakanlah jika siklus Porprov empat tahunan, maka dua tahun sebelum Porprov digelar Porwil dulu. Misalnya ada Dulongmas, satunya wilayah karesidenan Semarang dan Pati. Mengapa harus ada Porwil? Ini semacam penjaringan agar atlet yang tampil di Porprov lebih berkualitas,” katanya.

Bagaimana jika Porwil digelar pada 2016 padahal konsentrasi Jateng menuju PON dan PON Remaja? Dia menjelaskan, bahwa Porwil bisa saja digelar setelah PON Jabar, tapi dengan cara yang sederhana. ”Makanya perlu dirumuskan dahulu bagaimana aturan main Porwil. Tapi memang budaya pembinaan, kompetisi dan penjaringan harus dimulai sejak tingkat wilayah, mulai kota/kabupaten, karesidenan agar kita mendapatkan bibit atlet yang andal,” imbuhnya. (bas/smu)