Pemanfaatan EBT Butuh Investor

158

SEMARANG – Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Jawa Tengah sebenarnya cukup banyak. Tapi sayang, karena tidak digarap dengan bagus akhirnya potensi tersebut terkubur. Salah kendalanya biaya untuk memanfaatkannya yang cukup besar. Oleh karena itu, perlu investor untuk pemanfaatannya. Melalui Raperda Energi yang dalam minggu ini digedok, diharapkan bisa lebih mengoptimalkan penggunaan EBT.

Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Mustolih mengatakan, selama ini untuk energi hanya mengandalkan dari fosil. Kondisi ini cukup berbahaya, karena seiring dengan berjalannya waktu fosil bakal habis. ”Nah dalam kondisi inilah harus memanfaatkan energi alternatif, energi baru terbarukan,” katanya, kemarin.

Dia mencontohkan, Biofuel, Biomassa, Panas Bumi, Air dan lainnya. Tapi sayang, sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan dengan maksimal karena masalah biaya. Sebab, untuk biaya pengolahan EBT membutuhkan biaya mahal. ”Kalau dibiaya APBD jelas tidak kuat. Tapi kalau untuk narik investor, jelas mereka tidak tertarik,” ujarnya.

Saat ini Komisi D DPRD Jawa Tengah tengah finalisasi Raperda tentang Energi Baru Terbarukan. Selain mengurus EBT juga persoalan distribusi gas elpiji yang sampai saat ini masih semrawut. ”Raperda sudah finalisasi. Tinggal nanti digedok dalam paripurna pekan ini,” tambahnya.

Sebenarnya daerah sudah kreatif dalam memanfaatkan sumber energi baru terbarukan. Sayang, karena biaya mahal membuat energi baru tersebut tidak tergarap. Contohnya ketika pemerintah mencanangkan akan menggunakan minyak jarak, buktinya tidak bisa bertahan lama. ”Padahal masyarakat sudah ikut menanam jarak. Ya karena biayanya lebih besar,” kata anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah, Ambar Fathonah.

Selama ini distribusi elpiji bersubsidi selalu bermasalah. Saat ini semua kewenangan di tangan pemerintah pusat mulai dari distribusi sampai HET. Bahkan untuk pengawasan juga diambil alih pusat. ”Ini yang menjadi masalah, karena persoalan semua di bawah. Kami tetap melakukan pemantauan,” tambahnya. Raperda Energi ini diharapkan bisa membantu untuk menyelesaikan persoalan energi di Jateng. Sebab, saat ini hanya terfokus ke energi yang bersumber dari fosil. (fth/zal/ce1)