Kemacetan dan Undur Diri

177

Oleh: Djoko Setijowarno

MUNDURNYA Djoko Saksono sebagai Dirjen Perhubungan Darat cukup mengejutkan. Pejabat tersebut mundur sebagai rasa tanggung jawabnya lantaran tidak dapat mengendalikan kemacetan yang berlarut saat liburan Maulid Nabi Muhammad SAW, Natal dan Tahun Baru. Pengunduran ini semata-mata sebagai bentuk tanggung jawab, bukan tidak mampu. Undur diri dari jabatan merupakan hal biasa terjadi di mancanegara ketika merasa program yang dijalankan terasa gagal dan akan menimbulkan dampak yang merugikan orang banyak. Akan tetapi di negeri ini, hal itu masih belum biasa.

Mundur bukan berarti kariernya hilang atau mati, tetapi bisa berkiprah di tempat lain yang sekiranya masih memungkinkan dapat mengembangkan potesi pejabat yang bersangkutan. Artinya dengan mundur, pejabat yang bersangkutan punya modal untuk berkembang selanjutnya dan mampu kendalikan diri.

Pada libur panjang akhir tahun ini, diprediksi jumlah kendaraan saat mendekati hari Natal mencapai sekitar 105 unit. Sementara jumlah kendaraan di jalan tol pada hari normal kisaran 70 ribu-76 ribu unit. Belum lagi ditambah perilaku pengemudi yang tidak tertib berlalu lintas, turut pula memicu kemacetan.

Penulis sempat merasakan macetnya perjalanan dari Jakarta ke Bandung (ditempuh 10 jam) dan dari Bandung ke Semarang (dilewati selama 15 jam). Mengalami kemacetan di jalan tol lebih tersiksa ketimbang di jalan non tol. Terlebih semua lajur jalan tol terpenuhi kendaraan termasuk bahu jalan yang mestinya kosong dan hanya digunakan dalam kondisi darurat. Kelelahan nampak dari menumpuknya puluhan kendaraan diparkir di tepi jalan yang sebenarnya hal itu tidak dbolehkan di jalan tol.

Namun jika tidak istirahat seperti itu akan membahayakan perjalanan. Memilih rest area, sudah penuh juga dengan kendaraan parkir, tidak tersedia tempat parkir. Rest area atau tempat istirahat turut memicu ketersendatan laju kendaraan. Rest area tidak memberi informasi ketersediaan ruang parkir. Akibatnya, banyak kendaraan yang masuk kemudian keluar karena tidak mendapat ruang parkir. Untuk masuknya saja perlu antrean panjang sama dengan saat keluar. Kendaraan yang akan masuk ke tol juga tidak dibatasi sementara arus kendaraan di tol belum bergerak normal.

Untuk mencegah tidak terulangnya kemacetan parah pada arus balik nanti, harus ada pula pembatasan volume kendaraan masuk ke jalan tol. Saat kendaraan yang masuk sudah padat, akses jalan tol perlu ditutup agar pengendara tidak terjebak kemacetan di jalan tol. Cukup menanti di luar tol atau mengambil jalur alternatif.