Toleransi Beragama di Jateng Menurun

219

SEMARANG – Tolerasi beragama di Jawa Tengah sepanjang 2015 diketahui mengalami penurunan. Berdasarkan laporan kebebasan beragama yang dikeluarkan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, tercatat ada 14 kasus pelanggaran sepanjang tahun ini. Sementara pada tahun sebelumnya hanya terdapat 10 kasus pelanggaran.

Direktur eLSA Semarang, Tedi Kholiludin menjelaskan, permasalahan intoleransi tahun ini tidak jauh berbeda daripada tahun sebelumnya. Hanya saja, saat ini kasus yang tercatat lebih banyak pelanggaran berupa pembatasan kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik. ”Misalnya dari kalangan Ahmadiyah dilarang berbicara dalam acara seminar oleh kelompok tertentu, kemudian dipolisikan. Bagi kami itu situasi darurat kebebasan berekspresi yang patut diseriusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan perusakan tempat ibadah juga masih menjadi catatan serius. Antara lain perusakan sanggar milik Penghayat Kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Rembang. Selain itu, persoalan intolerasi juga lebih banyak berkaitan dengan pelayanan administrasi kependudukan. Baik itu pembuatan Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk, dan izin pendirian rumah ibadah. ”Konflik horizontal di kalangan masyarakat dengan penolakan terhadap aliran keagamaan juga masih terjadi,” imbuhnya.

Tedi menegaskan, seharusnya masyarakat bisa lebih terbuka menerima perbedaan. Karena dari situlah akan tumbuh toleransi beragama. Melalui toleransi beragama akan menciptakan saling pengertian dan kerja sama memberikan jalan bagi masyarakat untuk menengahi konflik secara damai. ”Dengan begitu, toleransi bisa bermakna sebagai pengakuan, tidak hanya keterbukaan,” tandas alumnus Program Doktoral Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini.

Ke-14 kasus intoleransi yang dimaksud adalah, perusakan dan pembakaran sanggar Sapta Darma di Rembang; Penolakan pembangunan gereja di Pemalang; Bentrokan antara Ormas Majelis Tafsir Al-Quran dengan Banser Nahdlatul Ulama; Percobaan pembakaran Gereja Kristen Jawa di Purworejo; Kasus penolakan pembangunan gereja di Karanganyar; Ancaman penutupan Gereja GIDI di Solo; Ancaman penutupan Gereja Kristen Indonesia di Solo.

Selain itu, terdapat juga pelarangan pembicara dari Ahmadiyah oleh Jamaah Anshorus Syariah; Protes pelaksanaan As-Syura di Semarang; kasus pemolisian penulis buku Ahmad Fauzi; Protes kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia di Banyumas; Penolakan Jemaat Kristen Indonesia di Klaten; Dugaan konversi agama dari Buddha ke Islam; dan Persoalan diskusi Ahmadiyah di Semarang. (fai/ric/ce1)