Konselor Harus Kuasai Budaya

146

SEMARANG – Seorang konselor harus menguasai pengetahuan tentang kondisi sosiokultural masyarakat. Pengetahuan ini diperlukan agar dapat memberikan saran yang akurat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi konselingnya.

Hal itu dikatakan Guru Besar Ilmu Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang (Unnes), Mungin Edy Wibowo saat menjadi narasumber dalam diskusi Bimbingan Konseling Berbasis Multikultural, di auditorium Unnes, Selasa (22/12).

Menurutnya, pemahaman terhadap seluk-beluk budaya masyarakat lokal berkaitan erat dengan sikap yang menyertai masyarakat. ”Perspektif ini mungkin tidak langsung berkaitan dengan pemahaman konselor terhadap perilaku konseli, tetapi memberikan perspektif pada bagaimana seorang konselor dalam melakukan pelayanan konseling,” katanya.

Dijelaskan Mungin, konseling merupakan sebuah proses pemberdayaan dan pembudayaan manusia yang sedang berkembang menuju kepribadian mandiri untuk dapat membangun dirinya sendiri dan masyarakat.

Sehingga, lanjutnya, konselor perlu memahami manusia dalam segala hak aktualisasinya, kemungkinannya, dan pemikirannya. ”Bahkan memahami perubahan yang dapat diharapkan terjadi pada diri manusia,” lanjut Ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) itu.

Narasumber lain, yang juga hadir dalam kesempatan tersebut, Presiden Persatuan Kaunseling Malaysia Dato’ Halim Hussin mengatakan, konseling silang budaya (multikultural) bukan sesuatu yang baru dalam konteks pelayanan seorang konselor. ”Kaunseling (konseling) silang budaya merupakan satu sub-bidang kaunseling yang berbentuk keahlian atau kepakaran,” katanya. (ewb/ric/ce1)