BATANG- Angka kematian wanita di Indonesia akibat kanker serviks terbilang cukup tinggi. Tiap satu jam, terdapat 2 kematian akibat penyakit yang menyerang leher rahim ini.

Seperti dikatakan Kepala Puskesmas Warungasem Kabupaten Batang, dr Edi Samiaji, kasus kanker serviks di Indonesia tahun 2015 ini sudah mencapai 15.000. Jumlah itu terus meningkat setiap tahunnya. “Kalau untuk Kabupaten Batang sendiri kami masih melakukan pendataan, tahun 2016 nanti mudah-mudahan statistik penderita serviks sudah ada,” katanya, Selasa (22/12).

Edi juga mengatakan, keberadaan penyakit tersebut di masyarakat masih sulit terdeteksi. Sebab para ibu rumah tangga masih takut dan malu memeriksakan diri. “Kesulitan kami adalah melatih kesiapan psikis ibu rumah tangga dan remaja wanita untuk memeriksakan diri. Padahal jika dideteksi sejak awal akan mudah untuk melakukan tindakan lanjutan,” lanjutnya.

Diakui Edi, wanita di Kabupaten Batang masih malu apabila hendak memeriksakan diri. Tidak menutup kemungkinan mereka tidak siap menerima kenyataan apabila hasil diagnosa mengatakan positif terserang kanker serviks. Sepertinya itulah yang perlu diperhatikan oleh Dinas Kesehatan, karena kesiapan mental pasca diagnosis tidaklah mudah. “Jangan takut periksa, deteksi dini lebih baik sebelum terlambat,” tandasnya.

Penyakit yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma Virus) ini menular melalui hubungan badan yang bergonta-ganti pasangan. Belum ada penelitian yang memastikan apakah virus ini juga menular melalui genetika atau keturunan. Namun tidak menutup kemungkinan, keturunan orang yang terkena serviks berisiko lebih tinggi dibanding dengan orang yang tertular.

Selain itu, penggunaaan pil KB untuk jangka waktu yang lama juga dapat menyebabkan kanker serviks. “Jika lebih dari lima tahun, sebaiknya diganti dengan IUD, karena dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang memicu pertumbuhan bibit kanker serviks,” lanjutnya.

Untuk mendeteksi dini kanker serviks, Dinas Kesehatan Batang sudah melakukan tes sederhana dengan menggunakan metode IVA. Metode ini menggunakan asam cuka sebagai penanda apakah leher rahim seorang wanita sudah terinfeksi kanker serviks atau belum. “Apabila seorang wanita sudah terinfeksi, maka leher rahim yang sudah diolesi cuka tersebut akan berubah menjadi berwarna keputih-putihan atau pucat. Apabila positif, kami segera lakukan penanganan lanjut,” bebernya. (mg29/ric)