Sebagai langkah awal, IFC Chapter Semarang yang baru beranggotakan 18 desainer ini berusaha mengoptimalkan potensi lokal. Paling tidak, bisa bersaing dulu di pasar global atau MEA mendatang. Produk lokal, kata Ina, dibagi menjadi dua jenis. Tradisional dan kontemporer. ”Nah, IFC akan coba bermain di kontemporer untuk mencari konsumen di pasar asing. Meski begitu, kami tetap tidak akan meninggalkan yang tradisional,” tegasnya.

Dikatakannya, ekosistem industri mode secara garis besar terbagi dalam rantai kreatif mulai dari proses kreasi, produksi, distribusi, penjualan hingga archiving, serta nurturance environment yang mencakup pendidikan dan apresiasi. ”Semarang memiliki semuanya, baik dari sisi desainer, aneka bahan baku fashion, pernik aksesori, dan penyelenggaraan kegiatan. Semua dikombinasi agar kekuatan lokal bisa maju dan tumbuh mengalahkan mode dunia yang masuk ke Indonesia dan Semarang,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, Indonesia bahkan Kota Semarang sendiri memiliki banyak desainer muda yang potensial dan produktif. Hal inilah yang menjadi perhatian IFC, membentuk kelompok desainer muda yang akan menjadi tulang punggung kemajuan industri mode.

”Kelompok muda ini tumbuh di era digital, menikmati gaya hidup global. Mereka diharapkan siap memasuki panggung dunia dengan tetap berakar pada keunikan budaya Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua IFC Pusat, Lia Mustafa menambahkan bahwa organisasi ini dibangun berdasarkan semangat kebersamaan. Penyatuan ide dan konsep dituangkan dalam berbagai program serta kegiatan untuk tujuan bersama. Mengemas inspirasi Indonesia menjadi tawaran produk gaya hidup global.

”Industri fashion itu tidak terbatas pada busana saja. Ada sepatu, tas, kerajinan tangan, dan lain sebagainya. Dan Indonesia, khususnya Semarang, sudah punya potensi di bidang itu,” jelasnya. (*/ida/ce1)