Mahasiswa Desak Nasionalisasi Freeport

203
EKSPRESIKAN TUNTUTAN : Aksi teaterikal anggota FNF yang menggambarkan eksploitasi emas di tanah Papua oleh cukong dengan menampilkan manusia berbalur serbuk emas di Bundaran Tamansari, Senin siang (21/12) kemarin. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EKSPRESIKAN TUNTUTAN : Aksi teaterikal anggota FNF yang menggambarkan eksploitasi emas di tanah Papua oleh cukong dengan menampilkan manusia berbalur serbuk emas di Bundaran Tamansari, Senin siang (21/12) kemarin. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA–Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Front Nasionalisasi Freeport (FNF) dan berbagai elemen masyarakat mendesak dilakukan nasionalisasi freeport di Bundaran Tamansari lewat unjukrasa, Senin siang (21/12) kemarin. Tuntutan tersebut diekspresikan dengan aksi teaterikal berupa manusia berbalur serbuk emas. Aksi ini menggambarkan eksploitasi emas di tanah Papua oleh cukong.
Aksi yang dimulai pukul 13.00 siang di Bundaran Tamansari, Kota Salatiga tersebut, tidak hanya berorasi, tapi juga membagi ratusan bunga kertas serta menggambar karikatur.
“FNF mengajak masyarakat untuk bersama–sama menuntut nasionalisasi Freeport untuk kedaulatan rakyat. Menarik semua regulasi yang melanggar konstitusi dan merugikan rakyat Indonesia serta menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat,” jelas Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Syukur Fahrudin kepada wartawan.
Selain itu, massa juga menuntut diberlakukannya reformasi agraria sejati demi terwujudnya kedaulatan rakyat terhadap tanah, air dan udara. Massa juga menyerukan penolakan segala macam bentuk impor bibit transgenetik dan mosanto sebagai upaya untuk menjaga kesehatan lingkungan.
Ditambahkan, kontrak Freeport akan berakhir hingga 2021 dan dirasa sudah sangat lama. Kontrak karya Freeport dimulai tahun 1967 berdasarkan UU 11 tahun 1967 tentang PMA. Dalam kontrak itu, Freeport mendapatkan konsesi penambangan seluas 24.700 acres. Hingga kini disebut-sebut jika konsesi dalam kontrak sudah diperluas lagi.
Lebih jauh Syukur menyatakan jika aksi di Salatiga ini adalah yang pertama dan akan dilanjutkan dengan aksi–aksi serupa di kota lainnya. “Ini adalah kegiatan FNF Jateng dan akan terus dilakukan di tempat–tempat lain,” jelas Syukur.
Aksi mendapatkan pengawalan dari aparat dan berjalan lancar hingga usai. Sejumah mahasiswa putri membagikan selebaran yag berisi pernyataan sikap digabung dengan 300 bunga kertas. (sas/ida)