SEMARANG – DPRD menilai anggaran untuk sektor pertanian di Jawa Tengah masih sangat kecil. Untuk 2016 saja, pemprov hanya menganggarkan alokasi sebesar Rp 900 miliar. Jumlah itu dinilai masih kecil dibandingkan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara yang mencapai Rp 7,6 triliun.

”Bayangkan Kutai yang hanya kabupaten saja anggaran pertaniannya sangat besar. Ini kan jauh jika dibandingkan di Jateng,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudi Sancoyo, kemarin.

Ia mengakui anggaran pertanian di Kutai besar saat Komisi B DPRD Jateng melakukan kunjungan kerja. Secara Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM), Jateng sebenarnya memiliki potensi besar. ”Tapi karena tak didukung dengan anggaran, membuat sektor pertanian terkesan terabaikan,” ujarnya.

Yudi mengaku iri dengan kebijakan pemerintahan di Kutai pada sektor pertanian. Dengan dukungan anggaran yang besar, Kutai menjadi lumbung padi terbesar di Kalimantan. Bahkan bisa menyokong kebutuhan di Kalimantan Tengah, Selatan dan Utara. Sektor pertanian juga sangat maju dan bisa mengangkat perekonomian masyarakat. ”Jateng harus belajar dari Kutai. Sektor pertaniannya bagus dan pemerintah mendukung dengan anggaran besar,” tambahnya.

Menurutnya, sebenarnya secara SDA dan SDM, Jateng jauh jika dibandingkan dengan Kutai. Tapi karena anggaran yang digelontorkan masih minim, akhirnya target pemprov pun sulit diraih. Padahal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini masih diperparah dengan semakin minimnya masyarakat Jateng yang menasbihkan diri sebagai petani. ”Coba kalau anggaran dan hasil besar. Saya kira masyarakat tanpa diminta pasti ingin jadi petani,” tambahnya.

Selain pertanian, sektor perkebunan di Kutai juga patut dicontoh. Bahkan pemerintah daerah saat ini sedang mengembangkan buah naga. Selain anggaran, dukungan mata air sungai Mahakam juga kian meningkatkan kualitas pertanian. ”Dengan potensi alam besar, Jateng mestinya harus bisa lebih dari itu,” tambah anggota Komisi B DPRD Jateng, Sukirman. (fth/ric/ce1)