SUKARELA: Didik Suwarsono (tengah, berkacamata) bersama konselor VCT HIV Jateng lainnya. (Miftahul A’la/Jawa Pos Radar Semarang)
SUKARELA: Didik Suwarsono (tengah, berkacamata) bersama konselor VCT HIV Jateng lainnya. (Miftahul A’la/Jawa Pos Radar Semarang)
SUKARELA: Didik Suwarsono (tengah, berkacamata) bersama konselor VCT HIV Jateng lainnya. (Miftahul A’la/Jawa Pos Radar Semarang)
SUKARELA: Didik Suwarsono (tengah, berkacamata) bersama konselor VCT HIV Jateng lainnya. (Miftahul A’la/Jawa Pos Radar Semarang)

Para Konselor Voluntary Counselling and Testing (VCT) HIV/AIDS selama ini mengabdikan hidupnya untuk para penderita penyakit tersebut. Mereka dengan sukarela bergabung demi menyelamatkan warga Jateng dari bahaya penyakit yang mematikan itu. Salah satunya Didik Suwarsono.

MIFTAHUL A’LA, Semarang

BANYAKNYA masyarakat yang masih menutup diri jika mereka menderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi perhatian serius Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) Jateng. Sebab, kondisi ini jika dibiarkan terus bakal sangat berbahaya. Sebab, mata rantai tidak bisa diputus, dan akan semakin banyak korban.

Di provinsi ini, dari prediksi 47 ribu warga yang termasuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), baru ditemukan 12 ribu orang. Kondisi ini semakin parah, karena upaya perawatan dan penyembuhan sulit dilakukan lantaran 41 persen dari 7 ribu ODHA mengalami lost to follow up atau putus pengobatan dengan antiretroviral (ARV). ”Kondisi ini salah satu di antaranya yang menggerakkan kami untuk ikut terjun menangani masalah HIV/AIDS di Jateng,” kata Ketua Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI) Jawa Tengah, Didik Suwarsono kepada Jawa Pos Radar Semarang.