Penerima Bansos Fiktif Rata-Rata 10 Kali

200
BERI KESAKSIAN: Sidang pemeriksaan saksi terpidana aktivis mahasiswa terhadap dua terdakwa duo Joko di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI KESAKSIAN: Sidang pemeriksaan saksi terpidana aktivis mahasiswa terhadap dua terdakwa duo Joko di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI KESAKSIAN: Sidang pemeriksaan saksi terpidana aktivis mahasiswa terhadap dua terdakwa duo Joko di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI KESAKSIAN: Sidang pemeriksaan saksi terpidana aktivis mahasiswa terhadap dua terdakwa duo Joko di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Lima mantan aktivis yang juga terpidana kasus yang sama kembali diperiksa sebagai saksi atas perkara dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 yang menyeret duo Joko, yakni Joko Mardiyanto (JM) dan Joko Suryanto (JS) yang merupakan pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (14/12) petang.

Dalam kesaksian kelimanya secara kompak mengaku tidak pernah mengajukan proposal dana bansos tersebut termasuk pengajuan proposal bantuan kemasyarakatan, hanya saja kelimanya mengaku rekeningnya pernah digunakan oleh seniornya dan almarhum orang tuanya, kelimanya juga mengaku transfer di rekeningnya rata-rata sekitar 10 kali.

Dalam kesaksiannya tiga aktivis HMI menyatakan lima seniornya terlibat telah memakai identitas, rekening dan mengajukan puluhan proposal fiktif atas nama pribadi dan diri para saksi. Adapun lima seniornya tersebut, Syaifudin, Habibi, Ahmad Habib dan Nurul Huda (staf Fraksi Partai Golkar di DPR).