RIAS MUSLIM : Dalam perayaan HUT ke-34 HARPI Kota Semarang diperkenalkan rias pengantin muslim modifikasi, di Gedung PKK, Senin (14/12) kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RIAS MUSLIM : Dalam perayaan HUT ke-34 HARPI Kota Semarang diperkenalkan rias pengantin muslim modifikasi, di Gedung PKK, Senin (14/12) kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RIAS MUSLIM : Dalam perayaan HUT ke-34 HARPI Kota Semarang diperkenalkan rias pengantin muslim modifikasi, di Gedung PKK, Senin (14/12) kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RIAS MUSLIM : Dalam perayaan HUT ke-34 HARPI Kota Semarang diperkenalkan rias pengantin muslim modifikasi, di Gedung PKK, Senin (14/12) kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG–Para perias pengantin, terutama yang tersebar di Kota Semarang, harus mengikuti uji kompetensi agar tidak salah kaprah dalam melakukan prosesi pernikahan. Pasalnya, prosesi pernikahan ala Jawa seperti manten Semarangan, Solo, atau Jogja, sarat dengan hal-hal sakral.

Dari siraman, ijab, temon, hingga seserahan, mengandung filosofi dalam dari segi budaya, adat, hingga religi. Karena itu, perias pengantin yang tidak lepas dari menata prosesi tersebut harus tahu filosofisnya.

“Yang terjadi saat ini, banyak yang salah kaprah. Pernah saya melihat, make up-nya ala Solo, tapi busananya ala Jogja. Kan jadi lucu. Anehnya, pengantinnya pun tidak merasa ada yang salah. Cukup pede berdiri di atas pelaminan,” kata Seksi Budaya DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Kota Semarang, Yustin Sulistyo, di sela-sela perayaan HUT ke-34 HARPI Kota Semarang di Gedung PKK, Senin (14/12) kemarin.