Sempat Ngonthel dengan Kondisi Tangan Hancur

Bom Meledak, Lima Jari Putus

131

MIJEN – Seorang pria paruhbaya, Suratman, 50, harus rela kehilangan lima jarinya, setelah bom racikannya meledak. Warga Desa Kongkong RT 4 RW 4 Kelurahan Ngadirgo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang ini pun bersimbah darah. Tangan kirinya hancur akibat ledakan. Lima jarinya diduga terputus. Belum diketahui motif dari kejadian tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, diduga Suratman hendak memecah bongkahan batu besar menggunakan bom rakitan tersebut. Namun justru malah meledak mengenai tangannya sendiri.

Kapolsek Mijen Kompol Sapari membenarkan adanya insiden yang terjadi pada Kamis (10/12) siang tersebut. Saat itu, korban berada di tengah-tengah kebun tak jauh dari rumahnya. “Dia meracik bahan peledak berbahan dasar belerang. Hasil pemeriksaan saksi, dia hendak memecahkan batu besar untuk dijual,” katanya, kemarin.

Dijelaskan Sapari, korban membawa bahan peledak sendiri yakni belerang. Kemudian melubangi batu besar dan memasukan bahan peledak tersebut. Diduga, prediksinya meleset, sehingga saat korban belum sempat menjauh dari batu besar, bahan berbahaya tersebut meledak lebih cepat.”Mengenai jari tangan kiri, hancur. Selain itu, korban juga mengalami luka di bagian dada dan wajah akibat terkena serpihan batu,” terangnya.

Usai terkena ledakan, korban masih sadarkan diri. Bahkan dia masih sempat naik sepeda onthel untuk pulang ke rumah dalam kondisi sempoyongan. “Oleh keluarganya, kemudian dibawa ke rumah sakit Tugu,” imbuh Sapari.

Sapari juga mengaku masih melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut. Pihaknya telah memeriksa beberapa saksi dan menyita barang bukti berupa serpihan batu bercampur belerang. “Saksi yang kami periksa adalah keluarga korban. Tempat tinggalnya juga sudah kami geledah. Tidak ditemukan bahan peledak lain,” katanya.

Pihaknya mengaku masih menunggu kesehatan korban membaik untuk kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Di antaranya untuk mengetahui apa motif peledakan tersebut.
“Nanti segera kami lakukan pemeriksaan korban jika kondisinya sudah membaik. Saat ini masih dirawat di RS Tugu,” katanya.

Sapari menegaskan, apapun alasannya aktivitas merakit ataupun meracik bahan peledak tidak dibenarkan. Sebab hal itu membahayakan nyawa, baik diri sendiri dan orang lain. “Jelas, kegiatan merakit bom itu melanggar,” pungkasnya. (amu/zal)