PELANGGARAN: Mobil milik warga diparkir di atas trotoar di jalan protokol Kota Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PELANGGARAN: Mobil milik warga diparkir di atas trotoar di jalan protokol Kota Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PADA dasarnya manusia adalah pejalan kaki. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, mereka tidak pernah lepas dari kegiatan jalan kaki. Karenanya, hak-hak pejalan kaki harus terus diperjuangkan. Termasuk keberadaan trotoar yang selama ini telah direbut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Hal itu diungkapkan Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Kota Semarang (KPKS) Theresia Tarigan.

Perempuan yang akrab disapa Tere ini menilai, trotoar harus digunakan sebagaimana mestinya. Yakni, khusus untuk pejalan kaki. Karena itu, dalam pembuatannya juga harus ramah terhadap pejalan kaki. “Trotoar yang aman adalah yang datar, tidak licin, dan ada peneduhnya. Begitu juga JPO (jembatan penyeberangan orang) harus dibuat manusiawi dengan tidak terlalu curam,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Atas dasar itu, Tere mengaku akan terus mengampanyekan pentingnya keberadaan trotoar tersebut kepada masyarakat. Selain itu, juga secara intens mendesak pemerintah agar bersedia menyediakan fasilitas yang ramah bagi pejalan kaki.

“Konsen kami adalah terwujudnya transportasi yang sustainable (berkelanjutan). Selain jalan kaki, kami juga mengajak untuk naik sepeda dan naik angkutan umum,” terangnya.

Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu trotoar yang berada di depan RSUP dr Kariadi Semarang yang berhadapan dengan Polrestabes kondisinya cukup memprihatinkan. Setelah dilakukan audiensi dengan pihak Pemerintah Kota Semarang, akhirnya beberapa bulan berikutnya telah diperbaiki. “Waktu itu, kami minta dibuat fasilitas area pedestrian,” akunya.

Menurut Tere, selama ini perawatan trotoar tidak jelas menjadi tupoksi siapa. Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga hanya menangani kualitas dan panjang jalan. Sementara dari Dinas Perhubungan dan Dinas Pertamanan turut menggunakannya untuk memasang rambu-rambu lalu lintas dan pot bunga. “Akibatnya trotoar menjadi sempit dan tidak bisa dilalui pejalan kaki,” katanya.

Ia menambahkan, salah satu tempat yang dapat menjadi referensi pengelolaan trotoar yang baik adalah negara Singapura. Di sana trotoar dibangun terpisah dengan jalan raya. Antara jalan raya dan trotoar berjarak kurang lebih satu meter dipisahkan oleh pepohonan. “Biasanya setiap ada informasi kami share melalui media sosial,” akunya.