Desak Batasi Gula Rafinasi

131

SEMARANG – DPRD Jateng mendesak pemprov mengambil tindakan dengan maraknya peredaran gula rafinasi di Jateng. Sebab, kondisi ini jika terus dibiarkan pasti merugikan petani tebu dan tidak memberikan sumbangsih ke pemprov. Ironisnya lagi, dari 11 pabrik gula di Jateng hampir separonya ikut memproduksi gula rafinasi.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudi Sancoyo menilai pemprov belum sepenuhnya memikirkan kesejahteraan petani tebu. Buktinya, pabrik gula yang awalnya berjanji akan mengakomodir hasil tebu petani tidak terealisasi. Di Todanan, Blora misalnya komitmen pabrik gula kepada masyarakat tidak ditepati. ”Memang hasil tebu diambil, tapi jumlahnya minim dan tak sesuai perjanjian awal,” katanya, kemarin.

Kondisi ini membuat petani tebu di Jateng mengeluh dan kesejahteraannya tak terjamin. Padahal, rata-rata masyarakat di dekat pabrik gula sudah diminta dan diarahkan menanam tebu. Tapi kenyataannya ketika panen, hasilnya tidak semua diakomodir. ”Kami di Komisi B sudah bertemu dengan petani tebu, mereka mengeluhkan komitmen pabrik gula,” ujarnya.

Dewan juga menyorot masalah hasil produksi gula di Jateng yang sedikit. Jumlahnya jauh berbeda dibandingkan Jawa Timur yang memproduksi banyak dan benar-benar memberdayakan masyarakat lokal. Dan di Jawa Timur gula rafinasi hampir tidak ditemukan di pasaran. ”Jateng mestinya mencontoh itu. Bagaimana bisa membatasi keberadaan gula rafinasi,” tambahnya.

Gubernur Jateng didesak mengambil kebijakan yang cepat dan tepat. Apalagi program gubernur ingin menyejahterakan kehidupan petani di provinsi ini. Jika gula rafinasi terus dibiarkan membanjiri pasar Jateng, otomatis petani tebu nasibnya semakin terpuruk. ”Harus diambil solusi yang tepat. Memang tidak bisa menghilangkan, tapi harus dibatasi,” tambahnya.

Idealnya Jawa Tengah masih membutuhkan pabrik gula untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jateng. Pabrik gula di Jateng ada 12 unit. Dari jumlah itu, hanya memproduksi 31.000 ton per hari. Padahal kapasitasnya bisa mencapai 41.500 ton per hari. ”Harus ditambah lagi, karena kebutuhan gula sangat tinggi,” kata anggota Komisi B DPRD Jateng, Helmi Turmudzi.

Pemprov Jateng diharapkan benar-benar bisa mementingkan nasib petani gula. Terlebih saat ini banyak petani yang beralih menanam tebu karena dijanjikan hasilnya ditampung di pabrik gula. ”Jangan kecewakan masyarakat yang sudah memenuhi permintaan pemerintah untuk menanam tebu. Mereka juga membutuhkan kesejahteraan,” tambahnya. (fth/ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here