KENDAL – Kasus Tubercolosis (TB) di Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia. Menurut Global Report TB WHO tahun 2011 prevalensi TB diperkirakan 289 per 100.000 penduduk.insidensi TB sebesar 189 per 100.000 penduduk dan angka kematian sebesar 27 per 100.000 penduduk. WHO memperkirakan di Indonesia setiap tahunnya terjadi 175.000 kematian akibat TB dan terdapat 550.000 kasus TB.

“Angka prevalensi TB di Kabupaten Kendal berdasarkan BTA pos pada tahun 2012 adalah 61 per 100.000 penduduk. Penemuan kasus suspek TB di tahun 2013 terdapat 8.787 kasus,” kata Kepala Sub-sub Recipient TB Care Aisyiyah, Nurul Qomariyah.

Sementara itu Koordinator Komunitas TB Care Aisyiyah, Sri Wahyuningsih menambahkan pada semester I tahun ini saja, sebanyak 595 warga Kendal menderita penyakit tuberkolosis. Bahkan dalam satu tahun terakhir tercatat belasa orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Angka tersebut bisa dibilang cukup tinggi, apalagi penyakit menular ini cenderung menyerang usia produktif dari 15 – 50 tahun. “Sebanyak 58 orang teridentifikasi positif menderita TB. Pemerintah telah memberikan pelayanan pengobatan gratis sampai sembuh bagi penderita tuberkolosis,” ujarnya.

Menurutnya, masih banyak warga yang belum mengetahui cara mendapatkan pengobatan gratis tersebut. Sehingga menganggap pengobatan penyakit tersebut mahal, akhirnya enggan berobat. “Padahal penyakit ini gampang menular, sehingga penanganan kepada penderita harus cepat diatasi,” katanya.

TB Care Aisyiyah, sendiri rencananya akan segera menggalang masyarakat untuk menanggulangi Tuberculosis. Selama tahun 2012-2013 sudah melatih 70 kader untuk terjun di masyarakat melakukan sosialisasi dan pendampingan pasien TB dengan wilayah jangkauan 14 kecamatan di Kendal. Para kader juga melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk menemukan orang terduga (suspect) Tuberculosis dan dengan menggandeng pihak lain untuk memerangi TB. “Bukan hanya mencari penderita, tetapi juga sosialisai tentang pengecagahan penyakitnya,” tuturnya.

Menurut data yang ada, sepertiga penduduk dunia terinfeksi, angka kematian 3 juta/tahun. Diperkirakan lebih dari 1.7 miliar orang terinfeksi tapi hanya 10 persen yang menjadi sakit. Sekitar 8 juta kasus baru setahun, 95 persen di negara berkembang. Bahkan setiap detiknya, 1 orang tertular sementara setiap 10 detik 1 orang meninggal. Setahun 100.000 anak meninggal. “ Untuk itu, perlu adanya peningkatkan penyuluhan untuk menemukan kontak sedini mungkin, serta meningkatkan cakupan program, promosi kesehatan dalam rangka meningkatkan perilaku hidup sehat dan perbaikan perumahan serta peningkatan status gizi, pada kondisi tertentu,” jelasnya.

Ia mengaku, pemberantasan atau untuk menekan penderita TB, perlu adanya element directly observed treatment short course yang melibatkan kalangan politisi, pemerintah kabupaten, dinas kesehatan hingga puskesmas dan laboratorium untuk menemukan suspect penyakit TB. “Sayangnya peran jejaring belum optimal, angka konversi dan kesembuhan yang masih di bawah target, pemeriksaan dahak untuk follow up masih banyak yang belum dilakukan, belum pernah menemukan kasus TB, pelaporan kasus TB anak tidak bersama dengan TB Dewasa, pemantauan pengobatan kurang lengkap,” tuturnya. Ia juga menambahkan jika pengobatan TB bisa di poly DOTS diseluruh fasyankes (Fasilitas layanan kesehatan) baik itu puskesmas atau RS. (adv-den/zal)