Dua Kader PDIP Divonis 4 Tahun Penjara

126

MANYARAN – Mantan anggota DPRD Jateng, Riyanto dan mantan sopir Rukma Setyabudi (Ketua DPRD Jateng), Desi Akhiriyanto alias Bagong harus menerima pil pahit dalam jeruji besi dengan waktu yang lama. Pasalnya majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang menjatuhi putusan pidana masing-masing 4 tahun penjara atas perkara dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Pemprov Jateng untuk wilayah Kabupaten Kebumen 2008.

”Kedua terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat 1 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 KUHP,” kata majelis hakim yang dipimpin, Antonius Widijantono dalam amar putusannya, Senin (7/12) petang.

Selain pidana badan, keduanya juga dipidana denda masing-masing Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Khusus terdakwa Bagong ditambah pidana membayar uang pengganti Rp 1.102 miliar subsider 2 tahun penjara.

Dalam pertimbangan majelis menyebutkan, kedua terdakwa dinilai terbukti korupsi bersama-sama dengan Sutikno, Daryanto, Untung Suparyono, Rahmat. Korupsi terjadi atas pemotongan dana bansos bidang keagamaan dan pendidikan 2008 guna pembangunan atau rehabilitasi masjid, sekolah.

Dari 19 bantuan yang diajukan dan dicairkan anggaran setotal Rp 1.220 miliar, hanya diberikan Rp 118 juta. Sisanya sekitar Rp 1.102 miliar yang dipotong dan dibawa terdakwa Bagong kemudian diserahkan ke orang lain yang tak jelas faktanya.

Atas putusan itu, terdakwa Riyanto langsung menyatakan menerima. Demikian pula Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Kebumen, Heru Cahyono dan Trimo menyatakan menerima. Berbeda dengan terdakwa Bagong menyatakan pikir-pikir langsung diikuti JPU juga menyatakan masih pikir-pikir. ”Kami masih pikir-pikir,” kata Bagong.

Vonis hakim itu diketahui lebih rendah setahun JPU yang menuntut pidana 5 tahun penjara dan pidana denda Rp 200 juta subsider 3 bulan terhadap kedua terdakwa.

Seperti diketahui, kasus bermula saat Bagong bertemu Riyanto pada Januari 2008 di kantor DPD PDI Perjuangan Jateng dalam acara temu kader dan sosialisasi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng pasangan Bibit-Rustri. Kepada Riyanto, Bagong mengaku sebagai staf Fraksi PDIP Perjuangan Jateng dan memberitahukan adanya program bansos.

Berapa pun dana bansos yang turun dari Gubernur Jateng, pembuat proposal hanya berhak menerima Rp 5 juta saja, karena sisanya akan diserahkan ke Fraksi PDI Perjuangan Jateng untuk menyuksekskan Pilgub Bibit Rustri 2008. (jks/zal/ce1)