SEMARANG – Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tinggal hitungan hari, Perguruan Tinggi (PT) diharapkan lebih memaksimalkan peran Program Studi (Prodi). Sebab, prodi menjadi salah satu fondasi dalam pembentukan kualitas lulusan.

Hal itu dikatakan Sekretaris Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti, Agus Indarjo saat ditemui usai memberikan kuliah umum di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Sabtu (5/12).

Dia menambahkan prodi sangat menentukan siap atau tidaknya lulusan dalam menghadapi MEA. Hal itu dapat dilakukan dengan penggemblengan melalui riset mulai dari mahasiswa hingga dosen. Penggemblengan dalam pembuatan skripsi kepada mahasiswa bertujuan memberikan dampak kompetensi saat lulus dari PT tersebut. ”Dosen juga demikian, pengalamannya dalam melakukan penelitian sebagai tolok ukur kompetensinya mempersiapkan lulusan menghadapi MEA,” katanya.

Ke depan, prodi harus mampu memberikan lulusan yang memang mampu berkompetisi dalam era MEA. Dikatakan Agus, riset harus diarahkan ke hilirisasi sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Baik itu melalui kerja sama dalam negeri atau luar negeri. “Tentunya lulusan yang bermutu itu mampu berkompetisi,” katanya.

Disebutkan Agus, dalam aspek kontribusi pendidikan akademik saat ini, Indonesia menempati peringkat 31 dunia. Sedangkan inovasi masih pada peringkat 60 dunia. Ke depan lulusan harus dilengkapi dengan sertifikat life skill maupun soft skill. ”Perguruan tinggi lembaga riset tidak hanya sekadar memunculkan paper namun juga harus mampu dimanfaatkan oleh masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Kopertis VI, DYP Sugiharto yang juga hadir dalam kuliah umum tersebut mengatakan peningkatan mutu sebuah PT sandarannya ada pada reputasi yang dimiliki prodi. Penguatan prodi agar bereputasi menjadi satu yang strategis. Prodi juga bertanggung jawab terhadap lulusan. (ewb/ric/ce1)