SEMARANG – Media massa memiliki posisi strategis dalam maju mundurnya kegiatan radikalisme. Sebab, berdasarkan hasil studi yang dilakukan, banyak mantan teroris yang telah dideradikalisasi kesulitan untuk kembali ke masyarakat karena pemberitaan masif tentang dirinya.

Hal itu diungkapkan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Najahan Musyafak dalam diskusi ”Peran Media Massa dalam Bela Negara Mencegah Radikalisme dan Terorisme yang digelar di kantor Kesbangpolinmas Jawa Tengah, Jumat (4/12).

Najahan menjelaskan, berbagai pemberitaan media massa yang terus mengalirkan isu radikalisme dan terorisme secara tidak langsung ikut andil mewarnai keberlangsungan hidup organisasi teroris di seluruh dunia. ”Beberapa kawan kami yang sempat tersesat, sulit untuk berbaur ke masyarakat karena sudah telanjur dicap teroris,” ujar pria yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu.

Ditambahkan dia, pelaku terorisme di Indonesia selama tahun 2000-2014 sebanyak 950 orang. Dari jumlah tersebut, 96 orang meninggal di TKP, 12 pelaku bom bunuh diri, 3 orang dieksekusi mati, 74 orang dikembalikan, 19 orang dalam proses penyidikan, 17 orang dalam proses sidang. ”Yang sudah divonis sebanyak 349 orang dan yang sudah dibebaskan sebanyak 380 orang,” imbuhnya.

Terkait penyebab terorisme, Najahan membaginya menjadi dua dimensi. Yaitu dimensi agama dan nonagama. Dimensi agama meliputi pemutlakan hasil penafsiran dan pemahaman keagamaan, kepatuhan yang membabi buta kepada pemimpinnya, politisasi agama, dan romantisme masa lalu yang kurang realistis dalam menghadapi persoalan masa kini. ”Sementara dimensi nonagama lebih kepada faktor politik, ketidakadilan, balas dendam dan kemiskinan,” terangnya.

Oleh karenanya, Najahan mengaku terbuka bila media massa bersedia menjadi mitra strategis dalam proses pengembalian kepercayaan publik terhadap terpidana kasus terorisme. Terlebih, bela negara sebagai prinsip hidup harus ditekankan agar rasa kepemilikan kepada Indonesia semakin kuat. ”Sebagai langkah antisipasi, gerakan radikal harus dijadikan common enemy (musuh bersama). Namun tetap direspons secara arif, bijaksana, dan tegas,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, hadir juga mantan teroris dari Front Pembebasan Islam Moro, Machmudi Hariono atau dikenal dengan nama Yusuf. Ia mengaku sempat terpojokkan dengan pemberitaan media massa yang memuat seolah-olah dia bakal menyasar sejumlah titik usai ditangkap pihak aparat. ”Saya yakin para mujahidin yang sudah jihad dan balik ke Indonesia tidak akan konflik karena di sini bukan lahan konflik,” ujarnya.

Ia menilai, peran media massa tidak hanya sebagai bentuk penghukuman saja. Akan tetapi media juga dapat membantu proses pengembalian teroris ke masyarakat jika memberitakan sisi positif pelaku terorisme usai lepas dari dunia tersebut. ”Bila media ingin membantu mereka (mantan teroris) kembali ke masyarakat secara alami itu sangat bagus. Sebab, ajakan kepada alumni teroris untuk kembali ke jalan jihadis tetap ada,” kata pria yang kini menjadi pengusaha itu. (fai/ric/ce1)