Baru 15 Persen Gunakan LDPE

164

SEMARANG – Anjloknya harga garam di kalangan petani garam di wilayah pantai utara (pantura) Jawa Tengah ditengarai karena belum semuanya menggunakan geoisolator dari bahan low density poly etilen (LDPE). Sehingga kualitas garam yang dihasilkan belum memenuhi standar industri.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Jawa Tengah, Lalu M. Syafriadi mengatakan, daerah penghasil garam terbesar di Jawa Tengah berada di lima Kabupaten. Yaitu Kabupaten Pati, Rembang, Demak, Jepara, dan Brebes. Dari petambak di lima daerah itu, masing-masing baru sekitar 15 persen yang sudah menggunakan LDPE. ”Selebihnya masih menggunakan teknologi tradisional. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan industri belum mencukupi,” ujarnya, kemarin.

Ia menjelaskan, potensi produksi garam di Jateng pada 2015 mencapai 670 ribu ton. Dari jumlah tersebut, yang diolah menjadi garam industri hanya sekitar 200 ribu ton. Artinya, masih ada kekurangan 170 ribu ton untuk mencukupi kebutuhan industri yang mencapai 370 ribu ton. ”Untuk memenuhi kekurangan itu, terpaksa harus impor. Namun itu bukan kewenangan kami melainkan instansi lain yakni Dinas Perindustrian dan Perdagangan,” bebernya.

Lalu menegaskan, pihaknya hanya berwenang menghasilkan garam. Oleh karenanya, ia mengaku terus melakukan pendampingan kepada petani garam agar menggunakan LDPE sehingga menghasilkan kualitas garam yang sesuai harapan. ”Kami juga terus memediasi mereka dengan pihak ketiga. Yaitu para pengusaha garam agar mau menggunakan hasil dari petani,” tandasnya berharap petani dapat menikmati hasil yang lebih baik.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, persoalan garam tidak akan terselesaikan tanpa ada lompatan pengelolaan. Jika dahulu pemerintah pusat memiliki konsep ingin membangun pabrik garam skala besar di NTT, maka menurutnya di Jateng lebih tepat. ”Yang bisa menyelesaikan secara sistematis menurut saya adalah dibuatkan pabrik besar di Jateng. Sehingga nanti kita bisa menampung garam-garam dari petani itu,” katanya.

Ganjar menambahkan, jika DPRD Jateng mendukung upaya ini, maka ke depan diperlukan pembahasan lebih intensif untuk membuat perencanaannya. Namun ia mengungkapkan, sejauh ini pihaknya belum menghitung secara detail mengenai rencana tersebut. ”Kemarin pikiran saya BUMN suruh membuat pabrik, nanti saya carikan lokasinya. Kalau tidak di pantura ya di selatan. Di mana-mana sebenarnya bisa, tapi yang visible memang di utara,” tandas mantan anggota DPR RI itu.

Untuk diketahui, beberapa pekan terakhir sejumlah petani garam di kawasan Pantura Jateng mengeluhkan anjloknya harga garam di tingkat petani. Harga garam diketahui terus menurun dari Rp 500 per kilogram menjadi Rp 200-300 per kilogram. (fai/ric/ce1)