Tenaga Kerja Terbatas Hambat Produksi

550
KERAJINAN KULIT : Minat masyarakat untuk menjadi perajin kulit menghambat pertumbuhan industri kerajinan kulit di Desa Masin Kecamatan Warungasem Batang. (ASYIK TABAH YANUARY/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERAJINAN KULIT : Minat masyarakat untuk menjadi perajin kulit menghambat pertumbuhan industri kerajinan kulit di Desa Masin Kecamatan Warungasem Batang. (ASYIK TABAH YANUARY/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERAJINAN KULIT : Minat masyarakat untuk menjadi perajin kulit menghambat pertumbuhan industri kerajinan kulit di Desa Masin Kecamatan Warungasem Batang. (ASYIK TABAH YANUARY/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERAJINAN KULIT : Minat masyarakat untuk menjadi perajin kulit menghambat pertumbuhan industri kerajinan kulit di Desa Masin Kecamatan Warungasem Batang. (ASYIK TABAH YANUARY/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Kerajinan kulit di Kabupaten Batang memang sudah memiliki pasar sendiri mulai dari Jambi hingga Papua. Namun, kondisinya saat ini memprihatinkan karena terkendala keterbatasan tenaga kerja.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang perajin kulit dari Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Mudasir. “Satu orang hanya bisa mengerjakan 5 sabuk dalam waktu 24 jam. Makanya, kalau satu kios punya 3 tenaga, ya paling-paling cuma bisa mengerjakan 15 sabuk per hari,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (27/11) kemarin.

Selain keterbatasan tenaga kerja, imbuhnya, tidak semua orang mau dan terampil dalam membuat sabuk seperti yang dikerjakan Mudasir. Bahkan keturunannya tidak mau melanjutkan usahanya dan lebih memilih menjadi buruh pabrik. “Anak saya lebih memilih kerja di pabrik yang banyak temannya, mungkin juga karena malu bikin sabuk,” katanya.