UNGARAN-Warga Lingkungan Junggul, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang mendesak Pemerintah Kabupaten Semarang dan Kepolisian untuk memberantas warung tuak yang mulai marak. Selama ini warga menilai ada pembiaran praktek perdagangan tuak atau ciu, termasuk penjualan minuman beralkohol lainnya di Bandungan. Warga mengancam jika kedua instansi tersebut tidak melakukan gerakan, maka warga sendiri yang akan bergerak memberantas peredaran tuak.

“Warung-warung tuak atau ciu semakin banyak. Dulu hanya ada beberapa warung saja, tetapi saat ini jumlahnya semakin banyak, bahkan ada di beberapa sudut Bandungan. Sehingga kami meminta Satpol PP dan Kepolisian untuk memberantas warung tuak dan toko minuman beralkohol lainnya,” tutur Wakil Ketua RW 4, Lingkungan Junggul, Budi Nugroho.

Budi menambahkan, warga Bandungan semakin geram dengan maraknya warung tuak sebab semakin banyak anak-anak muda yang akhirnya tergiur untuk menikmati tuak. Sebab harganya yang sangat terjangkau. Namun efeknya, sudah ada beberapa warga Junggul yang mengalami sakit syaraf. Salah satunya dialami SK, warga Junggul, Bandungan yang sampai saat ini masih menjalani perawatan karena overdosis tuak.

“SK masuk rumah sakit hari Sabtu pekan lalu. Ada kemungkinan dia mengalami gangguan syaraf karena pengaruh tuak. Selain dia ada beberapa warga lainnya yang mengalami hal serupa. Melihat kondisi itulah akhirnya kami mendesak pemerintah untuk memberantas minuman beralkohol jenis tuak atau ciu,” tandasnya.

Sementara itu Satpol PP Kabupaten Semarang, langsung beraksi. Lima penjual tuak dan dua pemilik toko minuman beralkohol dengan kedok jualan jamu diamankan petugas Satpol PP Kabupaten Semarang. Ketujuh orang tersebut akan diproses tindak pidana ringan karena berjualan minuman beralkohol tanpa ijin.

Kepala Satpol PP Kabupaten Semarang, M. Risun mengatakan, pihaknya telah melakukan operasi terhadap pedagang tuak dan minuman beralkohol. Hasilnya ada 7 pedagang tuak dan minuman beralkohol berhasil diamankan dari Ungaran, Bergas, Bandungan dan Ambarawa.