SEMARANG – DPRD mendukung penuh tekad Pemprov Jateng untuk mewujudkan swasembada padi, jagung dan kedelai (pajale). Jateng bahkan sudah menetapkan sasaran produksi untuk tahun ini. Yakni padi sebesar 11.136.967 ton GKG; jagung 3.166.504 ton pipilan kering serta kedelai 139.900 ton biji kering.

Dewan optimis target jagung dan padi bisa terwujud di Jateng. Tapi untuk produksi kedelai masih sulit terealisasi melihat minimnya minat petani untuk menanam kedelai di Jateng. ”Saya kira untuk jagung dan padi tidak ada masalah. Bisa terwujud,” kata Ketua Komisi B DPRD Jateng, Chamim Irfani, kemarin.

Meski begitu, pemprov harus benar-benar memperhatikan masalah pertanian di Jateng. Sebab diakui atau tidak lahan pertanian semakin tahun terus menipis karena pembangunan. Selain itu, sumber daya manusia terutama generasi muda sudah banyak yang enggan untuk menekuni profesi petani. ”Ini masalah serius. Salah satu penyebabnya karena dunia pertanian dianggap sudah tidak menjanjikan lagi,” ujarnya.

Chamim mencontohkan, untuk hasil pertanian kedelai target yang ditetapkan Jateng sulit terealisasi. Sebab, petani enggan menanam karena tidak ada subsidi pascapanen. Petani hanya diberikan subsidi prapanen. ”Padahal yang penting itu pascapanen. Bagaimana hasil pertanian bisa laku dan mendapat jaminan harga,” tambahnya.

Sebagai lahan pertanian, mestinya Jateng lebih mendapatkan perhatian serius di sektor pertanian. Apalagi, selama ini Jateng dinilai sebagai salah satu penopang pangan nasional. Dewan menilai selama ini Pemprov Jateng belum sepenuhnya memberikan perhatian ke sektor pertanian. ”Berbagai kebijakan masih belum propetani. Bahkan kartu tani yang digagas Gubernur Jateng saat kampanye masih belum ada hasilnya,” tambah Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudi Sancoyo.

Ia mendesak, pemprov lebih memperhatikan masyarakat pertanian. Ekonomi kerakyatan harus terus disokong dengan salah satunya meningkatkan harga jual petani di Jateng. Menyempitnya lahan pertanian juga membutuhkan terobosan baru untuk menyiasati agar produksi tetap maksimal. ”Harus ada teknologi pertanian, ini yang belum dikembangkan di Jateng,” tambahnya. (fth/zal/ce1)