DIPERIKSA: Orang tua Sa dan kerabatnya saat menunggu pemeriksaan di ruang penyidikan Polres Semarang, Rabu (25/11) kemarin. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA: Orang tua Sa dan kerabatnya saat menunggu pemeriksaan di ruang penyidikan Polres Semarang, Rabu (25/11) kemarin. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA: Orang tua Sa dan kerabatnya saat menunggu pemeriksaan di ruang penyidikan Polres Semarang, Rabu (25/11) kemarin. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA: Orang tua Sa dan kerabatnya saat menunggu pemeriksaan di ruang penyidikan Polres Semarang, Rabu (25/11) kemarin. (PRISTYONO HARTANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak kembali terjadi. Kali ini menimpa bocah perempuan yang masih duduk di bangku SMP berinisial Sa, 15, dan ibunya, Ys, 39, warga Ungaran, Kabupaten Semarang. Keduanya dilaporkan oleh Nv, pengusaha asal Kota Semarang yang merupakan ayah tiri Sa, ke Polres Semarang dengan tuduhan pencurian uang sebesar Rp 3,4 juta.

Hanya karena uang tersebut, kini Sa yang sejatinya adalah anak yatim karena bapak kandungnya telah meninggal dunia, terancam dipenjara selama 7 tahun. Sebab, Sa yang masih di bawah umur akan dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dan pasal 367 KUHP tentang pencurian dalam keluarga. Bahkan, pada Rabu (25/11) kemarin, penyidik Reskrim Polres Semarang telah melakukan pemeriksaan terhadap Sa.

Karena itulah, keluarga Sa terus melakukan upaya untuk membebaskan Sa agar terbebas dari jerat hukum yang dilaporkan oleh ayah tirinya pada 12 Juni 2015 lalu. ”Saya ingin masalah ini dikaji kembali. Sebab laporan itu bukan sekadar masalah pencurian, tetapi ada indikasi lain. Sehingga saya berharap agar penyidikan kasus ini dihentikan,” tutur Ys saat ditemui wartawan di Mapolres Semarang, kemarin.